Jangan Jadikan Toraja Tumbal Megawatt
Jika manfaat tidak terasa setara dengan risiko ekologis dan sosial yang ditanggung, maka wajar bila proyek baru dibaca dengan kehati-hatian
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Fransiskus-Allo-2.jpg)
Ataukah tetap mempertahankan identitas sebagai ruang budaya dan ekonomi berbasis pariwisata serta pertanian?
Ini bukan sekadar keputusan teknis. Ini pilihan sejarah.
Batas Moral Pembangunan
Transisi energi memang penting.
Dunia bergerak menjauh dari energi fosil, dan Indonesia tidak boleh tertinggal.
Tetapi transisi yang adil bukan hanya soal mengganti sumber energi.
Ia tentang memastikan bahwa dalam setiap langkah kemajuan, tidak ada komunitas yang dikorbankan diam-diam.
Toraja bukan ladang energi.
Ia adalah rumah budaya yang menyimpan ingatan, identitas, dan masa depan generasi.
Jika demi mengejar angka megawatt kita rela mengorbankan ruang hidup masyarakat adat, maka sesungguhnya yang kita korbankan bukan hanya Toraja, melainkan prinsip keadilan itu sendiri.
Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling cepat mengebor bumi, melainkan yang paling bijak menjaga rumahnya sendiri.(*)
Makale 19 Februari 2026
| Dampak Penolakan Proyek Geothermal, Warga Tutup Gunung Buntu Karua Tana Toraja |
|
|---|
| Juara Rinjani 100 Ultra 2026, Dian Salurante Dapat Penghargaan dari Bupati Toraja Utara |
|
|---|
| Polres Toraja Utara Tangkap Enam Warga Berjudi Ma'pasilaga Tedong |
|
|---|
| Parang Toraja Buatan Markus So Langi Bernilai Seni, Harganya Rp8 Juta |
|
|---|
| Minim Serapan Lokal, 1.116 Pencari Kerja Tana Toraja Pilih Merantau |
|
|---|