Jangan Jadikan Toraja Tumbal Megawatt
Jika manfaat tidak terasa setara dengan risiko ekologis dan sosial yang ditanggung, maka wajar bila proyek baru dibaca dengan kehati-hatian
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Fransiskus-Allo-2.jpg)
Oleh: Fransiskus Allo (Pemerhati Toraja)
TRIBUNTORAJA.COM - Toraja tidak pernah meminta menjadi pusat proyek energi.
Ia dikenal dunia karena budaya dan lanskapnya, bukan karena cadangan panas buminya.
Namun hari ini, di tengah ambisi transisi energi nasional, wilayah adat di Tana Toraja kembali dipetakan sebagai blok potensi.
Pertanyaannya sederhana: apakah demi mengejar megawatt, kita rela menjadikan tanah leluhur sebagai tumbal?
Penolakan masyarakat adat Bittuang terhadap rencana eksplorasi geothermal bukanlah sikap anti-kemajuan.
Ia adalah bentuk pertahanan atas ruang hidup.
Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar proyek, melainkan keberlanjutan kampung, sumber air, pertanian, dan identitas budaya.
Toraja sudah pernah memberi kontribusi energi melalui keberadaan PLTA Malea.
Listriknya mengalir ke jaringan regional.
Namun apakah kesejahteraan masyarakat sekitar melonjak signifikan? Apakah struktur ekonomi lokal berubah drastis?
Jika manfaat tidak terasa setara dengan risiko ekologis dan sosial yang ditanggung, maka wajar bila proyek baru dibaca dengan kehati-hatian, bahkan kecurigaan.
Energi Nasional, Risiko Lokal
Geothermal memang dikategorikan sebagai energi bersih dan terbarukan.
Tetapi label “hijau” tidak otomatis membuatnya bebas risiko.
| Dampak Penolakan Proyek Geothermal, Warga Tutup Gunung Buntu Karua Tana Toraja |
|
|---|
| Juara Rinjani 100 Ultra 2026, Dian Salurante Dapat Penghargaan dari Bupati Toraja Utara |
|
|---|
| Polres Toraja Utara Tangkap Enam Warga Berjudi Ma'pasilaga Tedong |
|
|---|
| Parang Toraja Buatan Markus So Langi Bernilai Seni, Harganya Rp8 Juta |
|
|---|
| Minim Serapan Lokal, 1.116 Pencari Kerja Tana Toraja Pilih Merantau |
|
|---|