Jangan Jadikan Toraja Tumbal Megawatt
Jika manfaat tidak terasa setara dengan risiko ekologis dan sosial yang ditanggung, maka wajar bila proyek baru dibaca dengan kehati-hatian
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Fransiskus-Allo-2.jpg)
Tahap eksplorasi berarti pengeboran, perubahan struktur tanah, potensi gangguan mata air, serta dampak terhadap lanskap pegunungan.
Bagi masyarakat adat Toraja, mata air bukan sekadar sumber air domestik.
Ia menopang pertanian, sawah, dan kebun yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
Gangguan kecil pada sistem air bisa berujung pada penurunan produksi dan ketahanan pangan lokal.
Lanskap Toraja bukan sekadar panorama.
Ia adalah basis pariwisata budaya yang menjadi warisan Tuhan sang Pencipta.
Jika lanskap rusak, dampaknya akan menjalar kemana-mana, dampak ekologis, dampak sosial, dampak ekonomi adalah realitas yang tidak akan terhindarkan.
Dan yang paling sensitif: tanah di Toraja bukan komoditas kosong.
Ia adalah ruang genealogis dan kosmologis.
Di sana berdiri tongkonan.
Di sana tersimpan relasi leluhur.
Ketika tanah diganggu, yang retak bukan hanya permukaan bumi, tetapi juga struktur makna yang mengikat komunitas.
Ujian Konstitusi dan Ruang keadilan Energi
Konstitusi Indonesia melalui Pasal 18B UUD 1945 mengakui dan menghormati masyarakat hukum adat beserta hak-haknya.
Ini bukan kalimat dekoratif.
| Dampak Penolakan Proyek Geothermal, Warga Tutup Gunung Buntu Karua Tana Toraja |
|
|---|
| Juara Rinjani 100 Ultra 2026, Dian Salurante Dapat Penghargaan dari Bupati Toraja Utara |
|
|---|
| Polres Toraja Utara Tangkap Enam Warga Berjudi Ma'pasilaga Tedong |
|
|---|
| Parang Toraja Buatan Markus So Langi Bernilai Seni, Harganya Rp8 Juta |
|
|---|
| Minim Serapan Lokal, 1.116 Pencari Kerja Tana Toraja Pilih Merantau |
|
|---|