Selasa, 9 Juni 2026

Jangan Jadikan Toraja Tumbal Megawatt

Jika manfaat tidak terasa setara dengan risiko ekologis dan sosial yang ditanggung, maka wajar bila proyek baru dibaca dengan kehati-hatian

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Jangan Jadikan Toraja Tumbal Megawatt
Tribun Toraja/ist
Fransiskus Allo (Pemerhati Toraja) 

Oleh: Fransiskus Allo (Pemerhati Toraja)

TRIBUNTORAJA.COM - Toraja tidak pernah meminta menjadi pusat proyek energi.

Ia dikenal dunia karena budaya dan lanskapnya, bukan karena cadangan panas buminya.

Namun hari ini, di tengah ambisi transisi energi nasional, wilayah adat di Tana Toraja kembali dipetakan sebagai blok potensi.

Pertanyaannya sederhana: apakah demi mengejar megawatt, kita rela menjadikan tanah leluhur sebagai tumbal?

Penolakan masyarakat adat Bittuang terhadap rencana eksplorasi geothermal bukanlah sikap anti-kemajuan.

Ia adalah bentuk pertahanan atas ruang hidup.

Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar proyek, melainkan keberlanjutan kampung, sumber air, pertanian, dan identitas budaya.

Toraja sudah pernah memberi kontribusi energi melalui keberadaan PLTA Malea.

Listriknya mengalir ke jaringan regional.

Namun apakah kesejahteraan masyarakat sekitar melonjak signifikan? Apakah struktur ekonomi lokal berubah drastis?

Jika manfaat tidak terasa setara dengan risiko ekologis dan sosial yang ditanggung, maka wajar bila proyek baru dibaca dengan kehati-hatian, bahkan kecurigaan.

Energi Nasional, Risiko Lokal

Geothermal memang dikategorikan sebagai energi bersih dan terbarukan.

Tetapi label “hijau” tidak otomatis membuatnya bebas risiko.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved