Senin, 8 Juni 2026

Jejak Pelaut Makassar di Australia Utara: Menyusuri Kembali Sejarah yang Terlupakan

Kisah para pelaut Makassar yang berlayar menuju pesisir utara Australia sejak abad ke-17 hingga ke-19.

Tayang:
Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Jejak Pelaut Makassar di Australia Utara: Menyusuri Kembali Sejarah yang Terlupakan
dok pribadi
Direktur Eksekutif Visi Indonesia Consulting, Saparuddin Santa 

TRIBUNTORAJA.COM - Ketika kita berbicara tentang hubungan Indonesia dan Australia, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada isu-isu kontemporer: kerja sama ekonomi, pertukaran pelajar, atau perjanjian strategis antar pemerintah. 

Padahal, jauh sebelum kedua negara ini berdiri dan memiliki batas politik modern, sudah ada jalinan lintas budaya yang terbangun di antara masyarakatnya. 

Sebuah hubungan maritim yang tumbuh dari keberanian, perdagangan, dan rasa ingin tahu- kisah para pelaut Makassar yang berlayar menuju pesisir utara Australia sejak abad ke-17 hingga ke-19.

Jejak Awal Pelaut Makassar di Pesisir Arnhem Land

Dalam catatan sejarah dan tradisi lisan masyarakat Aborigin, kisah pertemuan dengan orang-orang Makassar bukanlah legenda, melainkan kenangan hidup yang diwariskan turun-temurun. 

Setiap musim angin barat, perahu-perahu prau dari pelabuhan Makassar berlayar melintasi Laut Flores dan Laut Timor menuju pesisir Arnhem Land, membawa perbekalan, alat tangkap, dan harapan akan hasil tangkapan teripang yang melimpah.Bagi para pelaut Makassar, Australia bukanlah tanah asing.

Mereka menyebutnya “Marege’”, tempat di mana teripang-komoditas penting untuk perdagangan dengan Tiongkok - dapat ditemukan dalam jumlah besar. 

Perjalanan ini bukan pelayaran singkat. Mereka tinggal berbulan-bulan di pantai-pantai Australia utara, mendirikan kamp sementara, menjemur teripang, bahkan menjalin hubungan sosial dengan masyarakat lokal Yolngu.

Dalam beberapa sumber sejarah, disebutkan bahwa hubungan ini berlangsung damai dan saling menguntungkan. 

Orang Makassar memperkenalkan alat logam, tembakau, dan kain tenun, sementara masyarakat Aborigin membantu menunjukkan lokasi-lokasi terbaik untuk menangkap teripang. 

Mereka saling bertukar bahasa dan pengalaman, menciptakan bentuk awal diplomasi antar bangsa di kawasan Asia–Pasifik, jauh sebelum konsep negara-bangsa modern lahir.

Warisan Budaya dan Bahasa

Jejak interaksi ini masih bisa ditemukan hingga kini. Beberapa kata dalam bahasa Yolngu seperti balanda (orang asing atau orang kulit putih) sebenarnya berasal dari kata “Belanda”- yang digunakan orang Makassar untuk menyebut bangsa Eropa. 

Selain itu, terdapat jejak arkeologis berupa serpihan tembikar, peralatan besi, dan sisa pondasi dapur tempat pengolahan teripang di sepanjang pantai utara Australia.

Bahkan dalam seni ukir dan lagu-lagu tradisional masyarakat Aborigin, terdapat motif dan kisah yang menggambarkan kedatangan perahu prau dari arah barat laut. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh budaya maritim Makassar dalam memori kolektif mereka. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved