Opini Tribun
Sepatu dan Baju Saya dari Keringat Buruh
Tapi apakah saya berhenti sejenak dan bertanya: siapa yang membuat semua ini?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/exen-jontona-pmkri1.jpg)
Oleh: Exen Jontona
-Presidium Hubungan Perguruan Tinggi Pengurus Pusat PMKRI Periode 2024-2026
-Ketua PMKRI Malang Periode 2022-2023
TRIBUNTORAJA.COM - Setiap pagi, saya mengenakan kemeja yang rapi, menyemprot parfum, lalu melangkah keluar rumah dengan sepatu kulit yang mengkilap.
Dalam sekejap, saya merasa siap menghadapi dunia.
Tapi apakah saya berhenti sejenak dan bertanya: siapa yang membuat semua ini?
Hari ini, 1 Mei, adalah Hari Buruh Internasional.
Sebuah hari yang seharusnya bukan sekadar tanggal merah di kalender, melainkan momen refleksi bagi kita semua, bagi mereka yang memakai, tentang mereka yang membuat.
Di balik setiap helai benang yang menyusun kemeja saya, ada seorang perempuan yang berdiri selama dua belas jam di lantai pabrik, di bawah lampu neon yang menyengat, dengan mesin jahit yang berderu tanpa henti.
Ia menjahit ribuan kancing dalam sehari, namun belum tentu mampu membeli satu kemeja yang ia buat sendiri.
Di balik sepatu kulit saya yang kokoh, ada tangan-tangan kasar seorang pria yang mengiris, menambal, dan merekatkan bahan di gudang pengerjaan yang pengap.
Ia hafal setiap lekukan sol, setiap jahitan pinggir, tapi tidak pernah tahu ke kaki siapa sepatunya akan berpijak.
Mereka adalah buruh. Dan kehidupan kita, secara harfiah, dibangun di atas keringat mereka.
Kita hidup di era di mana membeli baju murah seharga dua puluh ribu rupiah dianggap hal biasa.
Fast fashion memanjakan kita dengan pilihan tak terbatas dan harga yang terasa tidak masuk akal murahnya.
Tapi ada harga lain yang tidak tercetak di label, dan harga itu dibayar oleh para buruh.