Sabtu, 2 Mei 2026

Opini Tribun

Sepatu dan Baju Saya dari Keringat Buruh

Tapi apakah saya berhenti sejenak dan bertanya: siapa yang membuat semua ini?

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Sepatu dan Baju Saya dari Keringat Buruh
Tribun Toraja/Ist
Exen Jontona (Presidium Hubungan Perguruan Tinggi Pengurus Pusat PMKRI Periode 2024-2026) 

Upah minimum yang sering kali tidak mencukupi kebutuhan hidup.

Jam lembur yang tidak selalu dibayar sepadan.

Kondisi kerja yang jauh dari kata layak.

Jaminan kesehatan yang masih menjadi pertanyaan bagi sebagian dari mereka.

Semua itu tersembunyi rapi di balik diskon besar-besaran dan iklan yang mentereng.

Kita yang membeli tidak melihatnya. Kita memang tidak diajak untuk melihatnya.

Setiap tahun, jalanan ibu kota dipenuhi lautan merah dan spanduk tuntutan.

Banyak orang melihatnya dari balik kaca mobil atau layar ponsel, lalu bergumam, "Demo lagi, macet lagi."

Tapi tahukah kita bahwa hak-hak yang kita nikmati hari ini - hari libur, jam kerja delapan jam, cuti, upah minimum - adalah hasil perjuangan para buruh yang turun ke jalan puluhan bahkan ratusan tahun lalu?

Mereka yang dulu berdemo bukan untuk kepentingan diri sendiri semata.

Mereka berjuang untuk martabat manusia di dalam sistem produksi yang kerap memperlakukan pekerja seperti roda mesin yang bisa diganti kapan saja.

Maka ketika hari ini para buruh kembali bersuara, mereka tidak sedang mengganggu.

Mereka sedang mengingatkan kita bahwa perjuangan itu belum selesai.

Saya tidak sedang mengajak siapa pun untuk berhenti membeli baju atau sepatu.

Itu bukan solusinya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved