Opini Tribun
Sepatu dan Baju Saya dari Keringat Buruh
Tapi apakah saya berhenti sejenak dan bertanya: siapa yang membuat semua ini?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/exen-jontona-pmkri1.jpg)
Yang saya ajak adalah untuk sadar - bahwa setiap keputusan konsumsi kita adalah sebuah sikap politik.
Ketika kita memilih brand yang membayar buruhnya dengan adil, kita ikut bersuara.
Ketika kita mendukung kebijakan upah layak, kita ikut berjuang.
Ketika kita tidak diam saat mendengar ada pelanggaran hak pekerja, kita ikut menjaga martabat sesama manusia.
Hari Buruh bukan hanya milik para buruh.
Ia milik kita semua - karena kita semua hidup dari hasil kerja mereka.
Besok pagi, ketika Anda kembali mengenakan kemeja favorit atau melangkah dengan sepatu kesayangan, cobalah sejenak berpikir: ada berapa pasang tangan yang menyentuh ini sebelum sampai ke tangan saya?
Rasa syukur yang sederhana itu mungkin tidak langsung mengubah dunia.
Tapi kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan.
Karena sepatu yang kita pakai bukan hanya dari kulit atau karet.
Ia juga dari keringat, dari lelah, dari harap seorang buruh yang ingin hidup layak seperti kita semua.
Selamat Hari Buruh Internasional, 1 Mei 2026.(*)