Agam Rinjani Ngamuk Saat Jenazah Ayahnya Tak Bisa Dipulangkan ke Makassar

Agam adalah perpaduan watak keras suku Makassar, Sulawesi Selatan dan Batak, Sumatera Utara.

|
Editor: Imam Wahyudi
emba/tribun timur
Daeng Rimang memperlihatkan foto masa kecil Agam Rinjani, saat ditemui di rumahnya, Jl Manunggal, Kota Makassar, Senin (14/7/25). 

Namun di saat yang sama, Agam melihat tetangganya yang tidak punya beras.

Ucok kecil pun meminta sebagian beras ke ibunya itu untuk diberikan ke teman sekaligus tetangganya.

"Jadi itu beras dua liter saya bagi, satu-satu literku. Karena Ucok kasihan lihat itu tetangga mau masak tapi tidak adami berasnya," kenang Daeng Rimang.

Daeng Rimang mengaku, saat mendapat kabar Agam menjadi tim SAR yang turut membantu evakuasi Juliana Marins, dirinya tak begitu heran.

Pasalnya, kata dia, Agam sudah terbiasa terjun ke lapangan utamanya saat terjadi bencana.

Meski demikian, dirinya juga sempat khawatir melihat aksi heroik sang anak menuruni jurang Gunung Rinjani sedalam 600 meter demi misi kemanusiaan.

"Saya sedih sebenarnya, saya takut lihat anakku di bawah (jurang) situ. Sampai tidak tidur saya dua hari, khawatir itu (tebing) runtuh bagaimana," ujarnya.

Jiwa petualang Agam, kata Daeng Rimang, diwarisi oleh mendiang kakek dan ayahnya yang seorang pelaut.

Namun, setelah menikah dengan Daeng Rimang, Khairul Agam memilih tidak melanjutkan profesinya sebagai pelaut.

"Karena waktu itu, dia (Khairul Agam) disuruh ikut sekolah ke Singapura, tapi tidak mau pisah dengan saya, makanya tidak dia lanjut," sebutnya.

Khairul Agam pun menafkahi keluarganya dengan bekerja sebagai teknisi pemasangan pipa PDAM pasca tak lagi melaut.

Kemudian pada tahun 1999, Khairul Agam merantau ke Sorong, Papua.

Saat Covid-19 melanda Indonesia, Khairul Agam ikut terpapar dan meninggal di Sorong pada  2021.

"Mengamuk itu Ucok waktu meninggal bapaknya di Sorong, karena tidak bisa dipulangkan ke Makassar jenazahnya karena Covid," kenangnya.

Daeng Rimang mengaku, tidak pernah membatasi Agam dalam mencari jati diri.

Ia selalu memberi restu utamanya saat menjadi Tim SAR atau menjadi petualang untuk menapaki setiap gunung yang dituju.

Dengan catatan, Agam tak boleh nakal.

"Saya itu tidak pernah kekang anakku, bilang tidak boleh ini itu. Selama itu kebaikan saya izinkan," tuturnya.

Kakak Ipar Agam, Serka (Purn) Hary mengaku kagum dengan jiwa petualang dan sosial Agam.

Hary mengatakan, Agam sempat turut melibatkan diri mencari sosok Mayor (CPM) Latang yang hilang di Gunung Gandang Dewata, Mamasa, Sulbar pada 2007 silam.

Saat itu, kenang Hary yang juga pensiunan Corps Polisi Militer (CPM), Agam ikut turut mencari Mayor Latang di belantara hutan Gunung Gandang Dewata.

"Dia tidak tergabung dalam tim pencari waktu itu. Tapi setelah dia dapat informasi, dia pergi secara mandiri mencari Mayor Latang," kenangnya.

Tidak hanya itu, lanjut pensiunan Detasemen Polisi Militer (Denpom) XIV Hasanuddin ini, pada 2016, Agam juga sempat bergabung dengan tim ekspedisi NKRI bersama prajurit Kopassus, pemuda dan mahasiswa dari seluruh Indonesia.(emba)

 

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved