Agam Rinjani Ngamuk Saat Jenazah Ayahnya Tak Bisa Dipulangkan ke Makassar

Agam adalah perpaduan watak keras suku Makassar, Sulawesi Selatan dan Batak, Sumatera Utara.

|
Editor: Imam Wahyudi
emba/tribun timur
Daeng Rimang memperlihatkan foto masa kecil Agam Rinjani, saat ditemui di rumahnya, Jl Manunggal, Kota Makassar, Senin (14/7/25). 

"Jadi mulai tahun 92 itu, saya kerja sebagai tukang tumbuk kaleng bekas," kata Daeng Rimang yang kini tinggal di Jl Manunggal, Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Makassar, Senin (14/7/2025).

Meski seorang perempuan, Daeng Rimang tak risih bekerja layaknya seorang pria.

Baginya, apapun itu asalkan halal untuk keluarga akan dilakoni.

"Pernah sampai 3 ton kaleng bekas saya tumbuk sendiri. Itu saya dapat Rp300 ribu per tiga ton," ujarnya.

Dalam sebulan, setidaknya sembilan ton kaleng bekas yang digeprek ibu enam anak ini.

Daeng Rimang dua kali menikah. Dari pernikahan pertamanya dia dikarunia empat anak.

Sedangkan dari suami keduanya, dia dikarunia dua anak, salah satunya Agam Rinjani.

"Itu kalau Agam pulang sekolah, dia bantu saya kumpulkan kaleng baru saya yang tumbuk (geprek)," ucapnya.

Kegigihan Agam membantu sang ibu, dirasakan betul oleh perempuan kelahiran Makassar 3 Maret 1949 ini.

Pasalnya, di keheningan malam, Agam kerap terbangun untuk mengumpulkan kaleng bekas yang akan digeprek sang ibu.

"Biasa itu, saya suruh cepat tidur karena kan kalau pagi pergi sekolah. Tapi sering saya lihat, bangun jam 1 malam baru dia kumpul itu kaleng bekas," bebernya.

Jiwa sosial Agam, kata Daeng Rimang, sudah terlihat sejak kecil.

Memori Daeng Rimang mengingat betul momen saat dirinya baru saja membeli dua liter beras.

Saat itu, kata dia, kondisi keuangannya cukup sulit.

Ia hanya mampu membeli dua liter beras untuk dimakan sekeluarga.

Halaman
1234
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved