Keluarga Pendaki Brasil yang Meninggal di Rinjani Akan Menggugat, Begini Respon Basarnas
Proses evakuasi oleh Tim SAR gabungan berlangsung selama empat hari karena cuaca ekstrem dan medan yang sulit.
TRIBUNTORAJA.COM – Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) merespons ancaman gugatan hukum dari pihak keluarga pendaki asal Brasil, Juliana Marins, yang meninggal setelah jatuh di jurang mendaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kepala Basarnas, Mohammad Syafi’i, menegaskan bahwa pihaknya telah menjalankan tugas evakuasi berdasarkan prosedur dan prinsip kemanusiaan.
Hal itu disampaikannya kepada awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/7/2025).
“Basarnas melaksanakan tugas kemanusiaan sejak informasi awal diterima hingga proses evakuasi selesai. Kami bekerja sesuai dengan mandat dan ketentuan yang berlaku,” ujar Syafi’i.
Terkait tudingan adanya kelalaian dalam proses evakuasi, Syafi’i tak secara langsung membantah, namun mempertanyakan dasar serta pihak yang melontarkan tuduhan tersebut.
“Menurut saya itu relatif, disampaikan oleh siapa dan ditujukan untuk siapa? Yang jelas kami sudah bekerja sesuai prosedur,” tegasnya.
Seperti diketahui, Juliana Marins (26), dilaporkan terjatuh saat mendaki Rinjani pada 21 Juni 2025.
Proses evakuasi oleh Tim SAR gabungan berlangsung selama empat hari karena cuaca ekstrem dan medan yang sulit.
Namun, pihak keluarga melalui Kantor Federal Pembela Publik Brasil (DPU) menilai ada potensi kelalaian dalam penanganan, dan saat ini tengah menunggu hasil autopsi ulang yang dilakukan otoritas Brasil.
Jika ditemukan indikasi bahwa penanganan SAR berkontribusi pada kematian Juliana, otoritas Brasil membuka opsi menempuh jalur hukum, termasuk kemungkinan penyelidikan internasional.
“Kami sedang menunggu hasil autopsi lanjutan untuk menentukan langkah selanjutnya. Jika ditemukan unsur kelalaian, kami akan meminta pertanggungjawaban melalui jalur hukum,” ujar advokat HAM DPU, Taisa Bittencourt.
Tanggapan DPR RI
Terkait insiden ini, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus turut memberikan tanggapan.
Dirinya lebih menekankan pada penjaminan keamanan bagi para wisatawan.
Dia meminta kepada seluruh stakeholder agar bisa memberikan batasan keamanan terhadap lokasi wisata yang kerap dikunjungi, termasuk Gunung Rinjani.
"Karena ketika terjadi kecelakaan, yang disalahkan itu Basarnas. Respon timenya (waktunya) lama lah, prosesnya lama lah, padahal orang Basarnas sendiri bertaruh nyawa di sana. Ini harus kita perbaiki," tandas Lasarus.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Respons Kepala Basarnas soal Ancaman Gugatan dari Brasil atas Kematian Juliana Marins
Kronologi Evakuasi Pendaki Belanda, Sarah Tamar yang Jatuh di Gunung Rinjani NTB |
![]() |
---|
Kemarin Pendaki Swiss, Hari Ini Pendaki Asal Belanda Jatuh di Gunung Rinjani |
![]() |
---|
Lagi, Pendaki Asing Jatuh di Gunung Rinjani, Begini Kondisi Terakhirnya |
![]() |
---|
Agam Rinjani Ngamuk Saat Jenazah Ayahnya Tak Bisa Dipulangkan ke Makassar |
![]() |
---|
Jenazah Juliana Marins Dimakamkan di Brasil, Keluarga Kritik Lambatnya Evakuasi di Indonesia |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.