Opini
Irasionalitas Politik dan Matinya Kebenaran
setiap politisi ingin terlihat mendominasi dan tidak tergoyahkan, agar bisa merebut kepercayaan publik
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Muhajir3r4ee.jpg)
Hal tersebut sama halnya membunyikan lonceng kematian bagi kebenaran.
Lantas adakah jalan keluar dari pasca-kebenaran? Dengan berat hati saya mengatakan, tidak ada.
Pasca-kebenaran tidak akan pernah hilang. Jika ada ruang bagi kebenaran menyelinap masuk dalam arena politik, maka akan selalu ada seseorang yang siap mempromosikan pasca-kebenaran.
Meski demikian, setidaknya kita bisa meminimalkan pengaruh negatifnya.
Di sini, dibutuhkan peran lembaga pendidikan dalam menumbuhkan pemikiran kritis dan kesetiaan pada fakta.
Kita juga membutuhkan peran lembaga independen untuk menyelenggarakan literasi digital secara masif, kesediaan masyarakat untuk bermedia sosial secara cakap, dan kesungguhan media massa dalam menebarkan kebenaran dan memeriksa fakta.
Tak kalah pentingnya, kita memerlukan kejujuran dan kebijaksanaan para politisi dalam berkompetisi.
Tapi, apakah mungkin itu terjadi? Entahlah. Saya lantas teringat pernyataan Hannah Arendt (1967), bahwa politik dan kebenaran tidak bisa dicampuradukkan.
Karena tak ada satu pun orang yang menganggap kejujuran sebagai bagian dari kebajikan politik.(*)
| Sepatu dan Baju Saya dari Keringat Buruh |
|
|---|
| Ketika Ekskavator Mengoyak Akar" Eksekusi Tongkonan di Toraja dan Krisis Identitas Budaya” |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Pelaut Makassar: Siapa Sebenarnya Penemu Benua Australia? |
|
|---|
| Toraja Masero Development Goals - Batch I: Membangun Kesadaran Kolektif Melalui Praktik Inisiatif |
|
|---|
| Hidup Terjepit, Kelas Menengah Semakin Tergerus |
|
|---|