Opini
Irasionalitas Politik dan Matinya Kebenaran
setiap politisi ingin terlihat mendominasi dan tidak tergoyahkan, agar bisa merebut kepercayaan publik
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Muhajir3r4ee.jpg)
Salah satu temuan klasik psikologi sosial telah menjelaskan bahwa manusia memiliki bias kognitif yang disebut sebagai disonansi kognitif.
Teori ini menjelaskan jika manusia cenderung mencari keselarasan antara keyakinan, sikap, dan perilakunya, dan mengalami ketidaknyamanan psikis jika elemen-elemen ini tidak sejalan.
Untuk mengurangi disonansi kognitif, orang-orang cenderung mengubah atau membenarkan salah satu komponen yang bertentangan.
Misalnya mengubah perilakunya agar sesuai dengan keyakinan yang dimilikinya.
Atau mencari pembenaran dengan mendukung argumen yang sesuai keyakinan mereka.
Maka dari itu, inti dari pasca-kebenaran bukan hanya tentang kebohongan, tapi bagaimana suatu informasi dipilih dan disajikan sesuai dengan pandangan pribadi orang-orang.
Bahkan ketika kebohongan digunakan untuk memanipulasi opini publik, tindakan tersebut tak bisa dianggap remeh.
Sebab tendensi kebohongan dalam pasca-kebenaran lebih berbahaya dibandingkan kebohongan biasa.
Vittorio Bufacchi (2020) mengatakan, inti dari kebohongan adalah bahwa si pembohong mengakui adanya kebenaran, namun memilih untuk menyampaikan kisah yang berbeda.
Sementara di era pasca-kebenaran si pembohong tidak hanya menyangkal fakta, melainkan juga bertujuan untuk meruntuhkan infrastruktur teoretis yang mendasari kemungkinan membicarakan kebenaran.
Masih segar di ingatan ketika Donald Trump menuduh Tiongkok menciptakan konsep pemanasan global untuk menjadikan manufaktur AS tidak kompetitif.
Atau, pada Pilpres 2019 lalu, di mana Prabowo mengklaim kemenangannya. Padahal baik hasil hitungan cepat KPU dan beberapa lembaga survei telah mengumumkan kemenangan Jokowi-Ma’ruf.
Baik Trump maupun Prabowo secara sadar membuat orang-orang meragukan kredibilitas sains dengan cara menyangkal fakta.
Di era pasca-kebenaran seorang politisi bisa saja meruntuhkan keandalan sumber-sumber epistemik terpercaya dengan merumuskan “fakta alternatif”, jika kebenaran mengancam dirinya.
Dengan kata lain, kebenaran telah diremehkan dan dianggap tidak relevan lagi.
| Sepatu dan Baju Saya dari Keringat Buruh |
|
|---|
| Ketika Ekskavator Mengoyak Akar" Eksekusi Tongkonan di Toraja dan Krisis Identitas Budaya” |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Pelaut Makassar: Siapa Sebenarnya Penemu Benua Australia? |
|
|---|
| Toraja Masero Development Goals - Batch I: Membangun Kesadaran Kolektif Melalui Praktik Inisiatif |
|
|---|
| Hidup Terjepit, Kelas Menengah Semakin Tergerus |
|
|---|