Kamis, 7 Mei 2026

Opini

Irasionalitas Politik dan Matinya Kebenaran

setiap politisi ingin terlihat mendominasi dan tidak tergoyahkan, agar bisa merebut kepercayaan publik

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Irasionalitas Politik dan Matinya Kebenaran
ist
Muhajir MA (Koordinator Paguyuban Ekosistem Informasi Sehat (PESAT) Sulsel) 

Ada juga klaim Ganjar tentang elektabilitasnya yang masih baik berdasarkan survei internal, meskipun sejumlah lembaga survei menunjukkan sebaliknya.

Hal paling tak masuk akal ketika politikus Roy Suryo menuduh Gibran menggunakan mikrofon khusus agar dapat didikte dari jauh selama debat cawapres.

Nyatanya, Kominfo dan sejumlah lembaga cek fakta telah memverifikasi jika tiga cawapres saat itu menggunakan mikrofon yang sama dengan jumlah yang sama.

KPU juga sudah menyatakan klaim tersebut sebagai hoaks.

Bukannya bertobat, Roy Suryo malah ngotot merasa dirinya benar dan melaporkan Ketua KPU ke polisi.

Semua pernyataan tersebut jelas irasional. Karena tidak didasari oleh kebenaran objektif dan bukti yang kuat.

Tapi hanya sekadar ungkapan perasaan dan pembenaran yang selaras dengan keyakinan pribadinya.

Pertanyaannya, mengapa klaim seperti itu tanpa ragu disampaikan oleh para politisi?

Bisa dipastikan perbuatan tersebut bukan hanya sekadar iseng dan sinisme belaka.

Para politisi adalah spin doctor dengan niat yang jelas: memengaruhi opini publik. 

Pasca-kebenaran, kata Lee McIntyre (2018), adalah supremasi ideologis di mana para praktisinya mencoba memaksa seseorang untuk percaya pada sesuatu terlepas ada bukti atau tidak.

Pemaksaan keyakinan tersebut tentu mudah dilakukan jika publik punya kecederungan untuk menerima gagasan yang sesuai dengan perasaan dan keyakinan pribadinya.

Sadar atau tidak, kita semua punya kecondongan seperti itu.

Selama beberapa dekade, para psikolog telah melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa manusia tidak selalu serasional yang diperkirakan.

Dalam diri manusia tertanam apa yang McIntyre sebut sebagai bias kognitif, yang menjadi akar terdalam dari fenomena pasca-kebenaran.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved