PBB Sahkan Traktat Laut Lepas, Apa Itu? Ini Penjelasan dan Pengaruhnya Terhadap Alam dan Masa Depan

Laut lepas di seluruh dunia tidak memiliki badan internasional atau perjanjian dengan fokus utama untuk melindungi keanekaragaman hayati laut.

Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
IST
ILUSTRASI LAUT LEPAS - Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hari Senin, (19/6/2023) mengesahkan traktat internasional pertama di dunia untuk melindungi laut lepas, atau bernama UN High Seas Treaty, kesepakatan lingkungan yang bersejarah, bertujuan untuk melindungi ekosistem terpencil yang sangat penting bagi umat manusia. 

Hal ini menunjukkan perlunya kolaborasi internasional dalam upaya melindungi spesies yang membutuhkan bantuan.

Hewan-hewan tersebut tidak mengenal batas negara.

Selain itu, terdapat kehidupan laut di perairan dalam, termasuk spesies yang sangat aneh seperti ikan pemancing (yang tampak seperti karakter menyeramkan di rumah hantu laut), ikan tripod (yang terlihat berdiri di atas sirip tulang seperti kaki tongkat), dan ikan kapak (yang memiliki organ yang menyala di perut mereka).

Dikatakan kadang-kadang kita lebih tahu tentang Bulan daripada kedalaman laut.

 

Baca juga: Sinyal Perdamaian? Menlu AS Anthony Blinken Berkunjung ke China

 

Apa yang Dipertaruhkan?

"Samudra kita telah menghadapi tekanan selama beberapa dekade," kata Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam sebuah pernyataan pekan lalu saat ia mendorong para delegasi untuk mencapai kesepakatan.

"Kita tidak bisa lagi mengabaikan darurat samudera."

Penangkapan ikan ilegal, berlebihan dan perubahan iklim adalah ancaman utama bagi keanekaragaman hayati laut.

Populasi hiu dan pari yang hidup di lautan terbuka, misalnya, anjlok lebih dari 70 persen sejak tahun 1970, menurut penilaian menyeluruh di tingkat global.

Ancaman baru terhadap kehidupan laut muncul saat manusia mencari tambang mineral berharga di samudera dan mencari cara untuk melakukan "sekuestrasi karbon", yang melibatkan upaya mengunci karbon dioksida untuk menjauhkannya dari atmosfer, di mana karbon dioksida merupakan kontributor utama pemanasan global.

 

Baca juga: Rusia Tuduh Ukraina Siap Perdagangkan Organ Manusia Demi Bantuan Militer Barat

 

Penambangan di dasar laut mengancam spesies yang sangat rapuh dan belum diketahui, kata para ilmuwan.

Halaman
1234
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved