MENGAPA INDONESIA CHAOS? Surat Terbuka untuk Jenderal Prabowo Subianto
Saya menulis ini dengan hati dan pikiran yang Insya Allah bersih ingin melihat Indonesiaku baik-baik saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/08052025_Saparuddin_Santa.jpg)
Pertama, kebijakan efisiensi yang anda keluarkan dengan menahan APBN untuk digunakan sebagai penggerak ekonomi nasional di pusat dan daerah, adalah langkah yang sangat berbahaya, dan inilah sebetulnya pemicu awal kejadian yang terjadi hari-hari belakangan ini.
Efiensi anggaran yang anda lakukan, telah mengakibatkan aktifitas ekonomi disektor usaha yang mampu menyerap tenaga kerja besar, lumpuh.
Akibatnya terjadi pengangguran baru dimana-mana. Bertambahnya pengangguran baru, berarti bertambahnya perut-perut yang tidak terisi sebagaimana biasanya.
Dalam teori Revolusi, perut yang lapar seperti bara api yang menunggu bensin untuk menyiramnya.
Efisiensi yang anda lakukan, lalu “menggantinya” dengan paket DANANTARA, sesugguhnya itu adalah paket ekonomi yang terburu-buru.
Di negara-negara maju, uang yang dikumpulkan dalam satu entitas tunggal ekonomi, itu hanya bisa berhasil jika pendapatan perkapita negaranya sudah mapan, artinya perut rakyatnya sudah makan secara layak.
Pemusatan pengelolaan keuangan Negara dalam satu badan pengelola tunggal, itu hanya bisa berhasil di lakukan, jika uang itu diambil dari murni adalah “bagi hasil ekonomi’ perusahaan-perusahaan Negara.
Tapi di Danantara tidak begitu, anda masih mengandalkan pinjaman luar negeri untuk Danantara.
Akibatnya apa? anda menambah utang Negara, yang artinya anda menambah beban keuangan Negara yang jatuh tempo setiap Juni atau Juli harus di bayarkan.
Saya tidak menolak Danantara. Untuk jangka panjang itu baik, tapi situasinya tidak tepat saat anda mengeluarkannya, yaitu disaat ekonomi nasional dan daerah sedang anda “perlambat” lewat paket kebijakan efisiensi.
Tahukah anda Jenderal bahwa dengan tidak berputarnya secara normal ekonomi di daerah, orang-orang di daerah akan pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib? Dan orang-orang itu adalah rakyat anda yang lapar secara akdemik.
Apa itu lapar secara akdemik? Yaitu orang-orang yang di pikirannya hanya bagaimana bisa mendapatkan makan hari ini untuk dirinya dan keluarganya.
Orang-orang ini, jika tidak makan, akan mencari jalan agar bisa makan dengan cara yang sebisa mungkin halal atau mendekati halal.
Kalau anda ingin tahu siapa saja mereka, merekalah yang hari ini mendatangi rumah-rumah para pesohor negeri ini, para pejabat yang mulutnya tidak bisa menghargai orang lapar.
Mereka-mereka yang setiap hari duduk manis di DPR, makan enak, tidur di rumah-rumah mewah, lalu mengatakan bahwa kami sedang mendiskuikan dan merumuskan kebijakan masa depan orang lapar.
| Jejak Pelaut Makassar di Australia Utara: Menyusuri Kembali Sejarah yang Terlupakan |
|
|---|
| Bansos Rp 900 Ribu Sudah Cair Mulai Senin 20 Oktober 2025, Begini Cek Penerima Bisa Lewat HP |
|
|---|
| Bukti Presiden Prabowo Percaya Amran Sulaiman, Beri Dua Jabatan Penting Urus Pangan Nasional |
|
|---|
| Fakta Mikrofon Presiden Prabowo Tiba-Tiba Dimatikan Saat Pidato Tentang Palestina di KTT PBB |
|
|---|
| BPS Toraja Utara Sampaikan Ekspose Data Indikator Makro |
|
|---|