Opini: Budaya Toraja dalam Kerangka Keislaman
Kehadiran Islam di tengah masyarakat Toraja memberikan suasana baru dalam pelaksanaan adat-istiadat di Toraja.
Penulis: Redaksi | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/02122024_Zul_Syahril.jpg)
Sejarah masuknya islam di Toraja belum dapat dipetakan dengan baik. Menurut sebuah artikel yang ditulis oleh Johan wahyudi mengatakan bahwa masyarakat Toraja pertama kali berinteraksi dengan Islam setidaknya pada awal abad ke ke 18.
Aktivitas perdagangan yang berpusat di Makassar pada saat itu menjadi salah satu faktor pendorong masuknya Islam di Toraja.
Pada masa itu, para pedagang Islam dari Makasar memasuki wilayah Toraja untuk berdagang. Tidak jarang dari mereka yang merasa nyaman lalu menetap dan kawin dengan penduduk lokal.
Hubungan dagang dan perkawinan menjadi awal masuknya Islam di wilayah Toraja.
Menurut catatan sejarah, perkawinan pemuda muslim dengan penduduk lokal Toraja terjadi pertama kali di lembang Madandan, Tana Toraja. Sosok pemuda muslim tersebut merupakan bangsawan asal Luwu bernama Opu Demmakalu'.
Ia menikah dengan wanita asal Madandan bernama Rangga. Dengan begitu, Istri dari Opu Demmakalu’ dianggap sebagai orang Toraja pertama yang memeluk Islam.
Jika pedagang muslim telah berinteraksi dengan penduduk Toraja sejak abad ke-18, maka dapat disimpulkan bahwa Islam masuk lebih awal dibanding Kekristenan.
Argumen tersebut diperkuat dengan sumber yang mengatakan bahwa Kekristenan masuk ke Bumi Lakipadada di awal abad ke-19. Terlebih lagi daerah Luwu di wilayah timur Toraja telah mengenal Islam sejak abad ke- 16.
Meskipun Islam masuk lebih awal dibanding Kekristenan, tidak serta merta membuat Islam diterima dengan baik. Ajaran Kristen memiliki banyak titik temu dengan kepercayaan Aluk Todolo.
Fleksibilitas semacam itu membuat Kekristenan dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat lokal. Selain itu, terdapat sejarah kelam yang memperburuk citra Islam di mata masyarakat Toraja.
Budaya Toraja dan Keislaman
Budaya Toraja memberi pengaruh kuat terhadap kehidupan masyarakat Toraja. Baik umat Nasrani maupun umat Islam. Keduanya tak lepas dari pengaruh budaya Toraja.
Pengaruh budaya Toraja dalam kehidupan beragama umat Islam memang tidak lagi dapat dihindari. Terutama bagi kaum muslim berdarah Toraja.
Ritual adat yang dikemas dalam nuansa Islami telah banyak dilakukan di Toraja. Contohnya pelaksanaan rambu solo' yang digelar oleh keluarga muslim di Tarongko, Kecamatan Makale pada tahun 2022.
Pelaksanaan rambu solo' oleh umat muslim tentunya berbeda dengan yang dilakukan oleh umat Nasrani. Setidaknya ada dua perbedaan besar yaitu waktu pemakaman dan jenis hewan yang disembelih.
| Sudah Jalani Sidang Adat Toraja, Komika Pandji Kini Diperiksa Bareskrim Polri |
|
|---|
| Harga Tedong Turun Rp10 Juta per Ekor, Saleko Masih Tembus Rp1 Miliar |
|
|---|
| Rambu Solo Nek' Geby di Sanggalangi Toraja Utara Digelar Januari 2026, Sajikan Sejumlah Ritual Adat |
|
|---|
| Bumbu Rendang Kerbau di Tana Toraja Tembus Rp1,5 Juta, Dipesan untuk Acara Rambu Solo |
|
|---|
| Mau Liburan ke Toraja Desember Ini? Banyak Acara Rambu Solo yang Bikin Liburanmu Makin Seru |
|
|---|