Opini Tribun
Teka Teki Mundurnya Airlangga
Sekira demikianlah alegori tepat, mengilustrasikan situasi dan kondisi ketika Airlangga Hartarto tetiba melakukan manuver, sama sekali tak terduga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Armin-Mustamin-Toputiri76.jpg)
Andai Airlangga manut KIM demi kemaslahatan Prabowo-Gibran yang segera mengambilalih estafet kepemimpinan nasional, apakah di dalamnya juga mencakup kepentingan Jokowi yang akan segera lengser?
Terhadap tarik ulur di antara dua kepentingan itu, Airlangga sepertinya alfa mengkalkulasinya.
Wajar, sebab lazimnya yang akan mengambilalih kepemimpinan dikedepankan, dibanding yang akan lengser.
Tapi kali ini lain, pemimpin yang segera pergi, segudang kepentingannya tak jauh kalah mendesaknya.
Kaesang putra Jakowi misalnya, Ketua Umum PSI yang beberapa hari lalu datang di kantor Golkar, tak mustahil andai Golkar yang diharap mengawinkan dengan Ridwan Kamil di Pilkada DKI Jakarta.
Tapi Airlangga justru bercanda, menyebut figur lain inisial “S”.
Dan akibat kealfaan Airlangga mengalkulasi di antara dua kepentingan itulah, sebaliknya jelang dua bulan Jokowi lengser, menjadi momentum terbaik menyandera Airlangga dengan dua opsi, mundur atau dijerat hukum.
Tak butuh waktu lama Airlangga memilih mundur. Maka terbukalah pintu lebar masuknya proxy Jokowi, Bahlil Lahadalia duduk di kursi Ketua Umum Golkar yang ditinggalkan Airlangga.
Apakah berhasil, forum Munaslub pekan depan akan menjawabnya.(*)