Kamis, 28 Mei 2026

Opini Tribun

Teka Teki Mundurnya Airlangga

Sekira demikianlah alegori tepat, mengilustrasikan situasi dan kondisi ketika Airlangga Hartarto tetiba melakukan manuver, sama sekali tak terduga.

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Teka Teki Mundurnya Airlangga
ist
Armin Mustamin Toputiri 

Lebih lagi, karena Jokowi memunggungi parpol yang telah membesarkannya. Tak mustahil andaikan PDIP kelak berbalas dendam padanya, lalu Jokowi tak punya kekuatan sedikitpun menepisnya. 

Atas semua kegentingan itu, memperkuat jawaban teka teki soal sejauhmana mendesaknya Airlangga digusur dari kursi Ketua Umum DPP Golkar.

Sekalian menguak teka teki, kenapa Golkar yang mesti direbut, bukan parpol lain.

Selain karena Golkar cara genetik memang tak bertuan, lebih dari itu karena Golkar punya track record mengawal pemerintahan.

Lebih lagi, karena Golkar punya segudang kader yang khatam mendaras langgam perpolitikan Indonesia.

Teka Teki KIM

Airlangga mundur di pekan ini, sesungguhnya bukanlah waktu yang tepat bagi seorang ketua umum parpol.

Sebab saat bersamaan, dia pergi meninggalkan bengkalai pengajuan Pasangan Cakada di 37 propinsi, dan 504 kab/kota.

Dan Airlangga, niscaya bukan tak tahu menahu urusan itu. Sebaliknya, bagi mereka yang berkepentingan menggusurnya, inilah momentum paling tepat. 

Tak lepas dari bengkalaian itu, jika pengajuan Pasangan Cakada yang hingga saat ini hendak dicermati, terlihat jelas jika Airlangga sesungguhnya terjepit di antara dua sisi mata koin.

Satu sisi berhasrat memenuhi hajat Golkar, tapi sisi lain dituntut legowo akan hajat bersama di KIM. Maka demi kemaslahatan kepemimpinan Prabowo-Gibran selanjutnya, Airlangga ikut manut.

Ridwan Kamil misalnya, kader Golkar yang sedianya kembali diadu untuk menakhodai Jabar, elektabilitasnya sulit ditaklukkan, tapi demi KIM Airlangga manut ikhlas kadernya ditarung di Pilkada DKI Jakarta.

Lalu untuk Jabar “lumbungnya Golkar”, ditukar guling kader Gerindra (ex-kader Golkar) Dedi Mulyadi. Cakada daerah lain, Airlangga pun manut demi soliditas KIM.

Padahal, lepas dari kepentingan KIM, tiap parpol masing-masing punya kalkulasi. Tak semata untuk memenangi pilkada, jauh lebih dari itu implikasinya untuk kebutuhan Pileg 2029.

Namun krusialnya, karena saat ini detik-detik transisi kepemimpinan nasional.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved