Opini Tribun
Janda Adalah Perempuan Terburuk?
Budaya kita selalu memberi kesan negatif kepada janda. Janda adalah perempuan yang tidak bersuami lagi karena bercerai
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Andi-Fa3er43.jpg)
Perempuan memiliki banyak nilai lain yang jauh lebih penting dibanding keperawanannya seperti bagaimana perilakunya, bagaimana cara dia mengambil sikap dan bertindak, bakatnya dan keterampilannya.
“Pasti istrinya tidak becus mengurus rumah dan anaknya, sampai ia di tinggalkan cerai.”
Seringkali anggapan tentang sesuatu tanpa harus membuktikannya terlebih dahulu alias praduga adalah kebiasan masyarakat.
Dan salah satunya pernyatan tidak becus. Mengurus rumah tangga dan anak merupakan kewajiban kedua belah pihak suami dan istri, bukan hanya pihak istri saja.
Hal ini secara tidak sadar terjadinya patriarki, dimana patriarki ialah sistem yang tidak adil dan merugikan banyak pihak, terutama perempuan yang harus bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga dan anak, sedangkan laki-laki tidak.
Karena, ketidaksetaraan gender membuat perempuan merasa tidak di harga dan memilih untuk mengakhiri rumah tangganya.
Perempuan yang terjebak dalam hubungan toxic hingga KDRT bisa jadi enggan berpisah dengan pasangannya karena takutnya akan status janda yang memikul banyak dicap negatif oleh masyarakat.
Padahal dalam situasi tersebut, menjadi janda adalah salah satu cara dan bentuk harapan untuk menyelamatkan diri sendiri dari kekerasan dan pasangan toxic.
Menjadi seorang janda adalah hal tidak salah dan perceraian bukanlah akhir segala-galanya.
Setiap orang berhak untuk menjalani hidup yang bahagia, terlepas dari status pernikahannya. Janda bukanlah pilihan, melainkan sebuah keadaan yang terjadi karena berbagai alasan.
Stigma terhadap janda sangat perlu dihilangkan karena berdampak tidak hanya ke janda tapi juga ke masyarakat.
Di mana masyarakat akan terus berperilaku patriarki. Menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki, yang dianggap tidak berharga dan tidak mampu hidup mandiri.
Secara tidak langsung mengartikanperan perempuan hanya bisa bergantung pada laki-laki. Hal ini kemajuan kesetaraan gender selalu terabaikan dan bertindak diskriminasi terhadap perempuan berstatus janda di berbagai aspek kehidupan.
Sebuah cita-cita penuh harapan, apabila stigma ini telah musnah, di mana perempuan yang kehilangan pasangannya tidak lagi dihantui dan takut oleh label negatif dan diskriminasi.
Dengan hilangnya stigma janda ini dapat mewujudkan kesetaraan gender dan keadilan.
Di mana masyarakat lebih menghargai semua orang, tanpa diskriminasi berdasarkan status pernikahan.
Janda memiliki akses yang sama terhadap peluang pendidikan dan pekerjaan.
Bebas dari stigma, janda memiliki kesempatan yang sama untuk membangun keluarga baru dan menjalani kehidupan yang bahagia.(*)