Kamis, 7 Mei 2026

Opini Tribun

Janda Adalah Perempuan Terburuk?

Budaya kita selalu memberi kesan negatif kepada janda. Janda adalah perempuan yang tidak bersuami lagi karena bercerai

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Janda Adalah Perempuan Terburuk?
ist
Andi Fasyah Azzahra Aras 

Sebelum memutuskan untuk menggugat cerai, pihak istri sudah pasti mempertimbangkan semua aspek dengan matang, mencari solusi alternatif dan berkonsultasi dengan pihak-pihak yang kompeten.

Jika keputusannya sudah bulat dalam memutuskan untuk mengakhiri hubungan suami-istri, artinya ia sudah tidak sanggup lagi membina rumah tangganya.

Perceraian akan lebih dirugikan kepada pihak perempuan karena mereka harus menanggung beban hidup sendirian, mulai dari disudutkan dan sulit untuk mendapatkan pasangan kembali karena dengan alasan janda sudah tidak perawan lagi.

Janda justru merupakan pihak yang seharusnya dilindungi karena merupakan pihak yang rentan, bukannya malah dilabelkan stigma yang memperburuk keadaannya.

Janda juga merupakan manusia biasa yang bisa mengalami gangguan mental hingga depresi karena omongan dan perilaku diskriminasi, sehingga berdampak kesulitan dalam pekerjaan, menjalin hubungan dengan yang baru dan kehidupan sosial.

Menjadi seorang janda pastilah tidak mudah harus tetap bertahan untuk dirinya dan anak-anaknya tanpa seorang laki-laki yang melindunginya.

Janda tidak layak untuk menikah kembali karena sebagian masyarakat beranggapan bahwa perempuan yang sudah pernah berumah dianggap gagal dalam membina rumah tangga sebelumnya.

Menjadi seorang janda bukanlah keinginan maupun harapan seorang perempuan dan tidak ada satupun orang menginginkan status janda.

Tidak ada salahnya seorang janda menikah kedua kalinya.

Janda juga manusia yang membutuhkan cinta kasih sayang, dukungan emosional, teman yang bisa dipercaya maupun diajak cerita dan juga ingin mendapatkan rasa aman dari suaminya sendiri.

“Jangan menikah dengan janda, dia sudah tidak perawan.” juga salah satu stigma sering dialamatkan kepada janda di masyarakat.

Kalimat ini tidak hanya keliru dan menyesatkan, tetapi juga menyakitkan dan merugikan bagi para janda.

Harga diri seorang perempuan selalu dinilai dari keperawanannya adalah ekspetasi dari masyarakat sehingga ia selalu mendapatkan perlakuan diskriminasi.

Pandangan ini didasari anggapan bahwa keperawanan perempuan adalah suatu kehormatan dan perempuan yang kehilangan keperawanannya akan dianggap tidak berharga sebagai perempuan.

Padahal esensi perempuan jauh lebih luas dari sekedar keperawanannya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved