Minggu, 12 April 2026

Revitalisasi Penjaringan Pemimpin di Pilkada, Pileg, dan Pilpres

Penulis menuangkan 6 ide untuk merevitaslisasi penjaringan pemimpin dan wakil rakyat.

Tayang:
Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Revitalisasi Penjaringan Pemimpin di Pilkada, Pileg, dan Pilpres
ist
Lucky Caroles, Pengamat transportasi yang kesehariannya bekerja sebagai dosen Transportasi dan Teknik Prasarana di Sekolah Pascasarjana Unhas Makassar. 

Penulis: Lucky Caroles
(Pengamat transportasi yang kesehariannya bekerja sebagai dosen Transportasi dan Teknik Prasarana di Sekolah Pascasarjana Unhas Makassar)

TRIBUNTORAJA - Dalam tiga sistem pemilihan yaitu legislatif (pileg), presiden (pilpres), dan pemilihan kepala daerah (pilkada) bukan lagi solusi kepemimpinan demokrasi.

Kenapa? Kita "dipaksa" memilih orang asing; tak kita kenal.

Dahulu, kala masa kecil, saya sangat senang menyanyikan lagu “Pemilihan Umum”. Rasanya, itu adalah satu-satunya lagu paling asyik.

Didendangkan di dekade 1980-an, tentunya bersama lagu anak-anak lainnya.

Memori kecilku menggambarkan pemilu sebagai aktivitas berbangsa-dan bernegara mengasyikkan: orang ramai berkumpul, banyak bendera, umbul-umbul, dan banyak lagi hal-hal menarik bagi kami, kaum kanak-kanak.

Ingin ikut pemilu namun belum cukup umur.

Beranjak remaja dan dewasa, saya tiba di level bukan lagi penggembira, melainkan jadi partisipan.

Saya jadi “penyumbang suara yang sangat berarti” karena ada iklan masyarakat yang berkata, “Satu suara Anda sangatlah berarti.”

Kata-kata itu membuat saya berapi-api.

Akronim itu sangat besar artinya karena membawa saya pada paradigma; suara saya ternyata punya pengaruh terhadap negara saya.

Bahkan, ada lagi kata-kata, “Suara Tuhan adalah Suara Rakyat”.

Ini membuat saya bertambah semangat dan betul-betul respek pada proses pemilu di negara tercinta ini.
Seiring bertambahnya usia saya dan negara ini, saya mengalami banyak hal. Mulai mempertanyakan berbagai soal.

Jawaban kudapat seperti “tersesat dalam labirin”. Oh iya, saya lupa menyebutkan bahwa keikutsertaan saya sebagai pemilih pemilu pertama kali terjadi ketika saya berusia 19 tahun.

Itu saat sudah berstatus mahasiswa dan sepenuhnya kebutuhan dan keinginan hidup (masih) dibiayai orangtua.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved