Jumat, 5 Juni 2026

Siswa SMAN 2 dan 3 Rantepao Pilih Ketua OSIS Lewat E-Vote

Ketua Panitia SMAN 2 Rantepao, Christopher Rannu Liamata, mengatakan pemilihan berbasis digital ini merupakan pengalaman

Tayang:
zoom-inlihat foto Siswa SMAN 2 dan 3 Rantepao Pilih Ketua OSIS Lewat E-Vote
Lilis/Tribun Toraja
KETUA OSIS - Suasana pemilihan Ketua OSIS berbasis E-Vote di SMAN 3 Toraja Utara, Senin (29/9/2025). Kepala SMAN 3 Rantepao, Lukas Tandi Badoang, menjelaskan penggunaan e-vote merupakan program dari Dinas Pendidikan Sulsel yang berkolaborasi dengan KPU sebagai bentuk edukasi pemilu sejak dini. 

Meski begitu, jalannya pemilihan tetap berlangsung tertib.

Guru dan panitia berupaya memastikan seluruh siswa bisa menggunakan hak pilih mereka.

Sejarah E-Vote

E-vote atau electronic voting adalah sistem pemungutan suara berbasis digital, di mana pemilih tidak lagi menggunakan kertas atau surat suara, melainkan perangkat elektronik seperti komputer, laptop, tablet, atau bahkan smartphone untuk memberikan suaranya.

Gagasan mesin pemungutan suara elektronik mulai muncul setelah mesin voting mekanik digunakan di Amerika Serikat pada awal abad ke-20.

Pada 1960-an, komputer generasi pertama mulai dimanfaatkan untuk eksperimen sistem pemilu otomatis.

Pada 1974, mesin voting elektronik pertama digunakan secara resmi di Pollokshields Burgh, Skotlandia.

Pada 1980-an, Amerika Serikat mulai mengembangkan sistem Direct Recording Electronic (DRE), di mana suara direkam langsung ke memori komputer.

Kemudian, Brasil dan India juga mulai melakukan riset penggunaan voting elektronik untuk pemilu.

Pada 1996, Brasil menguji Electronic Voting Machine (EVM) dan pada 2000, seluruh pemilu di Brasil sudah memakai e-vote.

Tahun 2004, India menjadi negara dengan pemilu elektronik terbesar di dunia, melibatkan lebih dari 380 juta pemilih menggunakan EVM.

Pada 2005, Estonia menjadi negara pertama yang memperkenalkan internet voting (i-voting) pada pemilu lokal, lalu digunakan pada pemilu nasional.

Perkembangan Global (2010–sekarang)

Banyak negara Eropa menguji sistem e-vote, tetapi ada juga yang menghentikannya karena kekhawatiran keamanan (misalnya Belanda dan Jerman).

Swiss, Kanada, Filipina, dan Venezuela termasuk negara yang pernah atau masih menggunakan e-vote.

Di Indonesia, Komisi Pemilihan Umum (KPU) beberapa kali menguji coba e-vote untuk skala kecil, misalnya pemilihan kepala desa (pilkades) di beberapa daerah sejak 2009.

Untuk pendidikan, e-vote mulai banyak digunakan di kampus dan sekolah untuk pemilihan BEM maupun OSIS, biasanya berbasis aplikasi lokal atau web sederhana.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved