Sabtu, 6 Juni 2026

Siswa SMAN 2 dan 3 Rantepao Pilih Ketua OSIS Lewat E-Vote

Ketua Panitia SMAN 2 Rantepao, Christopher Rannu Liamata, mengatakan pemilihan berbasis digital ini merupakan pengalaman

Tayang:
zoom-inlihat foto Siswa SMAN 2 dan 3 Rantepao Pilih Ketua OSIS Lewat E-Vote
Lilis/Tribun Toraja
KETUA OSIS - Suasana pemilihan Ketua OSIS berbasis E-Vote di SMAN 3 Toraja Utara, Senin (29/9/2025). Kepala SMAN 3 Rantepao, Lukas Tandi Badoang, menjelaskan penggunaan e-vote merupakan program dari Dinas Pendidikan Sulsel yang berkolaborasi dengan KPU sebagai bentuk edukasi pemilu sejak dini. 

TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3 Rantepao melaksanakan pemilihan Ketua OSIS Periode 2025/2026, Senin (29/9/2025).

Menariknya, pemilihan menggunakan sistem elektronik voting (e-vote).

Pemilihan berbasis digital ini menjadi terobosan baru bagi kedua sekolah.

Jika sebelumnya siswa menggunakan surat suara untuk mencoblos, kini mereka memberikan hak pilih melalui laptop yang disediakan di bilik suara.

Ketua Panitia SMAN 2 Rantepao, Christopher Rannu Liamata, mengatakan pemilihan berbasis digital ini merupakan pengalaman pertama bagi sekolahnya.

“Tahun ini SMAN 2 Rantepao baru menggunakan sistem ini,” ujarnya.

Ia mengakui ada kendala teknis karena sebagian siswa masih belum terbiasa dengan sistem login.

“Masalahnya ada di siswa, karena ini pertama kali jadi agak lama di bagian login,” tambahnya.

Jumlah daftar pemilih tetap (DPT) di SMAN 2 Rantepao mencapai 1.274 siswa dari kelas 10 hingga 12.

Mereka memilih tiga pasangan calon (paslon) Ketua dan Wakil Ketua OSIS.

Sementara itu, Kepala SMAN 3 Rantepao, Lukas Tandi Badoang, menjelaskan penggunaan e-vote merupakan program dari Dinas Pendidikan Sulsel yang berkolaborasi dengan KPU sebagai bentuk edukasi pemilu sejak dini.

Di SMAN 3 Rantepao, Ketua Panitia Firgilius Lino didampingi Wakil Ketua Panitia Merianty mencatat jumlah DPT sebanyak 730 siswa.

Tiga paslon ikut bersaing dalam pemilihan tersebut.

Namun, panitia sempat menghadapi hambatan teknis, seperti laptop yang lemot dan kesalahan kode akses.

“Ada kendala teknis, misalnya kode yang sudah terpakai, jadi guru harus mengganti kembali,” jelas Merianty.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved