Selasa, 19 Mei 2026

PSI dan Sejarah Baru Pemilihan Ketua Umum Partai

Pemilihan Ketua Umum (Ketum) PSI periode 2025-2030 akan dilakukan secara “one man one vote”

Tayang:
Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto PSI dan Sejarah Baru Pemilihan Ketua Umum Partai
dok pribadi
Direktur Eksekutif Visi Indonesia Consulting, Saparuddin Santa 

Pertama, PSI butuh citra baru, sebab hasil Pemilihan Umum ( Pemilu ) 2024 lalu, tidak begitu menggembirakan bagi partai, dimana salah satu target utamanya untuk lolos parliementary treshold ke DPR RI, tidak tercapai. 

Raihan angka suara nasional yang hanya 2,8 persen suara dari 151.796.630 suara sah Pemilu Legislatif 2024, sudah seharusnya menjadi bahan evaluasi utama, mengapa partai yang mengklaim diri Partai anak muda ini gagal mencapai parliementary treshold!

Kedua, memanfaatkan bonus elektoral dari kekuasaan. Kondisi sosial politik pasca terpilihan Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029, bisa menjadi bonus elektoral sekaligus tantangan berat bagi PSI dalam menyambut kontestasi politik pada Pemilu Tahun 2029 nanti. 

Bonus elektoral sebagai Partai pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran hanya akan terbukti tercapai jika partai ini, melalui kadernya di pemerintahan, menunjukkan kinerja yang baik di mata masyarakat, dan bukan hanya sekedar sebagai mesin politik penguasa. 

Selain harus menunjukkan kinerja terbaik, PSI juga harus mulai membuktikan diri sebagai partai yang bukan hanya “milik” anak muda, tetapi juga sebagai partai yang merangkul seluruh kalangan usia. 

Sebab faktanya, partai ini juga tidak begitu menarik bagi anak muda Indonesia. Terbukti dengan hasil yang rendah di pemilu 2024 lalu, yaitu hanya meraih 2,8 % (berbanding jauh dari jumlah pemilih millenial dan gen z yang jumlahnya lebih dari 56 % di Indonesia).

Alasan ketiga, PSI berusaha menjadi partai masa depan. Dan ini menjadi tantangan terbesar bagi Ketua Umum baru yang akan terpilih nantinya. 

Ketua Umum terpilih harus mampu membawa PSI menjadi partai yang benar-benar modern, ideal dan dicintai oleh rakyat Indonesia. 

Dengan di bukanya kran Parliementary Treshold dan Presidential Treshold yang lebih mudah bagi partai oleh Mahkamah Konstitusi untuk Pemilu dan Pilpres 2029 nanti, maka PSI mesti berbenah secara serius dan melakukan persiapan yang benar-benar matang. 

Bukan hanya dari sisi pemilihan pengurus DPP dan DPD-DPD yang wajib memiliki kecerdasan, kredibiltas dan integritas yang baik di setiap tingkatan pengurus, tetapi juga PSI harus memiliki konsep pemenangan yang matang dan komprehensip dalam rangka memasuki gelanggang politik multi partai di 2029. 

PSI harus berani mengambil peran dan sikap yang jelas dalam hal keberpihakan pada rakyat, dan bukan hanya sekedar partai yang ‘bergantung’ pada pemerintahan Parbowo-Gibran. 

Kader-kader terbaik sudah harus mulai dipersiapkan sejak awal. Jika perlu, siapkan sekolah partai, untuk menyatukan visi dan misi baru, serta konsep yang terintegrasi dengan cita-cita partai.

Diluar itu semua, PSI harus bisa bertransformasi menjadi partai yang inklusif, sebab salah satu ciri partai modern adalah partai yang terbuka. 

Pola rekrutment kader harus dibuatkan standar yang ketat (dari sisi integritas dan kapabilitas), tapi disaat yang sama, tidak membuat calon kader takut untuk bergabung. 

Menunjukkan kerja-kerja nyata yang langsung dirasakan kehadiran dan manfaatnya oleh masyarakat adalah kunci utama untuk menjadi partai yang dicintai.  

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved