Jamaah Islamiyah Bubar
Kisah Sabarno, 10 Tahun Dikejar Densus 88 Sebelum Menyerahkan Diri
Ia bergerak terus, bertahan hidup bersama keluarganya dengan bekerja apa saja, termasuk berdagang ban bekas dan jualan bakso.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/22072024_Sabarno_Jamaah_Islamiyah.jpg)
TRIBUNTORAJA, SOLO - Salah satu pentolan Jamaah Islamiyah, Sabarno alias Amali, menceritakan perjalanannya sebelum menyerahkan diri ke polisi.
Eks prajurit Jamaah Islamiyah yang akrab disapa Pak Sabar itu sempat masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Densus 88 Antiteror Polri.
10 tahun ia buron, kucing-kucingan dengan Densus 88, dengan berpindah-pindah tempat.
Ia bergerak terus, bertahan hidup bersama keluarganya. Ia bekerja apa saja, termasuk berdagang ban bekas dan jualan bakso.
Selama masa itu, dia tidak pernah tertangkap, hingga akhirnya ia menyerahkan diri.
Keputusan menyerahkan diri itu ia buat setelah melakukan tabayun dengan para senior.
Ia pun mengaku kaget saat mendengar organisasi Jamaah Islamiyah (JI) akan bubar.
Saat sedang berada di Madiun, Jawa Timur, saat pertama kali mendengar JI bubar.
Ia sebenarnya sempat syok saat mendengar JI membubarkan diri.
Namun pada akhinya ia bisa menerima kenyataan tersebut.
Kini ia juga siap untuk mematuhi proses hukum.
selain itu Sabarno sudah punya rencana terkait masa depannya dan keluarga.
“Saya ya sempat syok saat pertama mendengarnya. Lalu saya berusaha tabayun, dan mendapatkan penjelasan lengkap. Pada akhirnya saya bisa menerima, dan menyerahkan diri pada penegak hukum,” kata Sabarno.
Sabarno termasuk sosok penting dan punya rekam jejak panjang di gerakan Jamaah Islamiyah.
Ia pernah mengikuti semacam kursus singkat perang di sarang kelompok Moro atau MILF di Pulau Mindanao, Filipina.