Kamis, 7 Mei 2026

Pilkada Toraja Utara 2024

Serius Komiraka Membangun Torut?

Pilkada Toraja Utara diikuti dua pasangan calon Yohanis Bassang - Marthen Rante Tondok dan Frederik Victor Palimbong - Andrew Branch Silambi.

Tayang:
Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Serius Komiraka Membangun Torut?
TribunToraja/Freedy Samuel
Jacobus Mayong Padang (berdiri) menyampaikan pendapatnya dalam pertemuan alumni panitia pemekaran Kabupaten Toraja Utara di Gedung Pemuda Rantepao, Toraja Utara, Selasa (25/4/2023) lalu. Jacobus meminta agar permainan uang dihentikan. 

Oleh Yacobus Kamarlo Mayongpadang
Politisi senior PDI Perjuangan


TRIBUNTORAJA.COM - Serius 'Komiraka' Membangun Torut?

Pertanyaan ini saya sampaikan kepada bpk Andre Silambi', bpk Marthen Rantetondok, bpk Dedy Palimbong, bpk Yohanis Bassang dan seluruh tim pemenangan baik level kabupaten, kecamatan, lembang, dusun, baik level pengatur strategi, pendata sampai level pendistribusi material.

Pertanyaan ini pasti tidak lagi menarik, dan tidak ada lagi yang mempersoalkannya terutama di kalangan tim pemenangan kedua kandidat.

Karena kedua tim sudah larut dalam hiruk pikuk, kerepotan level tinggi untuk memanfaatkan waktu yg tersisa hanya satu minggu. 

Sementara masyarakat umum asyik menonton dan berdiskusi tentang berbagai hal menyangkut kedua kandidat  dan timnya.

Sayangnya kebanyakan diskusi bukan soal apa yang akan  dilakukan kedua kandidat nanti bila menang, dan kelemahan pemerintahan selama ini. Yang ramai didiskusikan justru hal- hal teknis termasuk; konon, Sipira la na pa'ben (berapa yang mereka mau berikan) serangan fajar.

Sangat mengherankan dengan kondisi demikian karena pada pertengahan periode yang hampir lewat terlalu banyak keluhan masyarakat yang muncul akibat pemerintahan yang tidak terkelolah dengan baik, bahkan Bung Dan Pongtasik, yang sangat matang dan paham ikhwal pemerintahan menilai pemerintahan sekarang terburuk selama Toraja Utara ada. 

Penyebabnya tentu banyak faktor, salah satunya PU (Permainan Uang) yang marak. 

Herannya keluhan tentang PU sekarang menghilang dari diskusi-diskusi, persis awan yang menghilang dari lembah-lembah di Toraja saat matahari  datang.

Bahkan Gereja Toraja pernah mendirikan Tallu Batulalikan dengan tekad melawan PU yang semakin marak di setiap event pemilihan, kecuali pemilihan majelis dan Badan Pekerja Sinode (BPS).

Tetapi Tallu Batulalikan yang semula menggelegar, panasnya menyengat, kemudian perlahan menjadi dingin dan akhirnya tak terdengar lagi.

Tinggal bung Suli' yang masih terus berkoar tanpa henti menyorot PU yang konon merasuki seluruh aspek politik dan pemerintahan.

Yang terjadi konon kedua tim sedang mengatur strategi yang jitu untuk memainkan PU.

Karena itu sampai sekarang konon belum jelas berapa BLTnya.

Karena kedua pihak saling mengintip, artinya kedua pihak sangat siap berapapun jumlahnya.

Banyak yang perkirakan, kali ini Torut akan kembali memastikan diri sebagai Pilkada termahal.

Prihatin mendengar info yang berseliweran di daerah yang baru saja menyelesaikan pesta gerejawi yang semarak; Sidang Raya Persekutuan Gereja - Gereja Indonesia (PGI) ke XVIII.

Prihatin dan berharap info tersebut hanya hoaks, perang urat syaraf di antara tim.

Karena sudah rahasia umum event kegiatan politik di Torut layaknya musim hujan. Saat musim hujan pasti banyak kodok yang keluar dan ribut. Maka konon saat Pilkada dan Pileg pasti banyak "koja" ( koteng Jawa yang keluar dan itu yang berkoar-koar pagi sampai malam, malam hingga pagi).

Saya tidak perduli dengan kodok atau "koja", tidak pusing dengan jumlah BLT yang kini ditunggu-tunggu warga.

Saya hanya mau bertanya pada pak Andre dan pak Marthen, pak Dedy dan pak Bassang, serius komi raka la unbangun ni te tondok (serius kah kalian membangun kampung).

Membangun itu bukan hanya fisik tapi  juga non fisik; pessiparan (perbuatan) kasianggaran (dihargai orang dan menghargai orang) termasuk menghargai siapa yang memang layak dan berkemampuan  menduduki sebuah jabatan.
  
Ko iammi serius (kalau kalian serius) hentikan PU, tapi kalau masih memarakkan PU, itu berarti bapak berempat tidak sedang bersiap untuk membangun melainkan sedang bertarung memperebutkan kekuasaan dan kehormatan karena melihat kekuasaan sebagai hal yang nikmat untuk dinikmati. 

Pesan dari JR Patandianan, politisi senior dan anggota MPGT yang dikenal karena keteguhannya pada pendirian dan kesederhanaan hidupnya.

Ia pernah berkata: Ia tu politik urusan to buda, ianna den unnurus to buda maparri' katuoanta (itu politik itu urusan banyak orang, kalau kita mengurus orang banyak itu memang banyak susahnya dihidup kita).

KONSISTEN SANGAT MAHAL, PRAGMATISME SELALU TEMUKAN ALASAN.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved