Minggu, 19 April 2026

Polemik Siaran Adzan Magrib Diganti Running Text Saat Misa Agung, Ini Saran Jusuf Kalla

Agar Misa disiarkan tanpa putus, azan Maghrib yang biasanya ditayangkan secara audio visual untuk ditampilkan dalam bentuk running text.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Redaksi | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Polemik Siaran Adzan Magrib Diganti Running Text Saat Misa Agung, Ini Saran Jusuf Kalla
AFP/TIZIANA FABI
Paus Fransiskus melambai tangan dari mobil saat tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta, Selasa (3/9/2024). Paus Fransiskus akan memimpin Misa di GBK besok, Kamis (5/9/2024). 

IMM dan PBNU Tidak Masalah Running Text

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung kebijakan Kementerian Agama (Kemenag) dan Kominfo yang meminta agar stasiun televisi tidak menyiarkan azan magrib pada saat siaran langsung Misa yang dipimpin Paus Fransiskus di Jakarta pada Kamis (5/9/2024). 

Hal ini dikatakan oleh Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla.

"Saya juga mendukung anjuran Kementerian Agama kepada stasiun televisi untuk tidak menyiarkan azan secara suara, secara audio, seperti lazim yang kita saksikan setiap hari di televisi kita," kata Ulil, Rabu (4/9/2024).

Gus Ulil, sapaan akrabnya menyampaikan, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Katolik yang tengah beribadah. 

"Untuk menghormati ibadahnya umat Katolik yang sedang disiarkan secara langsung pada jam 17.00 sampai jam 19.00," ucapnya. 

Ia juga mendukung penyiaran langsung Misa Katolik di Gelora Bung Karno, Jakarta, melalui stasiun televisi. 

Hal tersebut merupakan semacam dukungan kepada umat Katolik yang menerima kunjungan pemimpin tertinggi mereka, yaitu Sri Paus. 

"Saya menghargai kebijakan Kemenag, dalam hal ini Bimas Islam dan Bimas Katolik," jelasnya. 

Dia menyampaikan, kebijakan Kemenag tersebut menunjukkan penghargaan negara terhadap umat Katolik. 

Hal ini sejalan dengan pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang menegaskan, Kemenag bukan saja milik umat Islam, tetapi juga seluruh agama. 

"Kemenag tidak saja milik umat Islam, tetapi juga milik semua agama. Saya senang dan mendukung kebijakan Kemenag kali ini yang sangat toleran dan menghargai umat Katolik," ujarnya. 

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Riyan Betra Delza. Ia menyampaikan bahwa tidak menjadi masalah pada saat Misa yang dipimpin Paus Fransiskus, azan Magrib di televisi diganti dengan running text.

Riyan menjelaskan keputusan tersebut bisa dimengerti untuk menghormati umat Katolik yang sedang beribadah, yang tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti misa di GBK sehingga mengikuti misa melalui siaran Televisi.  

Namun demikian, azan tetap dikumandangkan di masjid-masjid sebagai penanda masuk waktu salat.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved