Jumat, 22 Mei 2026

Studi: Anak Muda Makin Gemar Makanan Rendah Gula

Konsumen di Indonesia juga menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap produk camilan baru yang mengandung buah asli, buah kering, atau ekstrak...

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Studi: Anak Muda Makin Gemar Makanan Rendah Gula
Freepik
Ilustrasi. 

TRIBUNTORAJA.COM - Minat konsumen muda di Indonesia dan Malaysia terhadap camilan 'bebas gula' mengalami peningkatan signifikan dalam setahun terakhir, dari 16,4 persen menjadi 31 persen.

Temuan ini diungkapkan dalam sebuah studi oleh perusahaan riset konsumen, Neurosensum, melalui laporan berjudul "Healthy Snacking: Global Trends Shaping Indonesian & Malaysian Markets in 2024."

Laporan tersebut mengungkapkan tren konsumsi camilan di Indonesia dan Malaysia pada tahun 2024.

 

 

Dikutip dari Kompas.com, studi ini melibatkan survei terhadap 800 konsumen di Indonesia dan Malaysia, berusia antara 18 hingga 54 tahun dengan latar belakang sosial-ekonomi yang beragam.

Data yang dikumpulkan menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam perilaku dan preferensi konsumen terhadap camilan.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa konsumen usia menengah lebih cenderung mencari camilan dengan kadar gula yang lebih rendah, atau bahkan tanpa tambahan gula sama sekali.

 

Baca juga: Psikolog: Jangan Biarkan Anak Kecil Pergi ke Toilet Umum Sendirian

 

Camilan dengan varian rendah gula lebih menarik bagi konsumen dibandingkan dengan opsi pengganti gula lainnya, seperti stevia dan gula aren.

Oleh karena itu, produsen camilan perlu menyesuaikan kadar gula dalam produk mereka sesuai dengan demografi target konsumen mereka.

Selain preferensi terhadap makanan manis, studi ini juga mengungkapkan bahwa konsumen muda di Indonesia lebih tertarik pada camilan yang diproduksi secara segar dan dikemas dengan bersih.

 

Baca juga: Gibran Sebut Nasi Bisa Diganti Mie untuk Makan Siang Gratis, Ahli Gizi: yang Penting Seimbang

 

Sedangkan, konsumen yang lebih tua lebih memperhatikan bahan-bahan alami dan organik.

Konsumen juga cenderung memilih merek yang menerapkan produksi secara etis dan transparan dalam penggunaan bahan, serta menampilkan gambar bahan pada kemasannya.

Hal ini menjelaskan mengapa lebih dari 50 persen konsumen memeriksa daftar bahan pada kemasan produk, sementara lebih dari 75 persen memeriksa fakta nutrisi saat membeli camilan.

 

Baca juga: Marak Anak Sakit Ginjal hingga Cuci Darah, RSUD Lakipadada: Belum Ada Kasus di Tana Toraja

 

Konsumen muda saat ini juga menunjukkan minat yang tinggi terhadap klaim spesifik seperti 'tanpa pengawet', 'tanpa bahan kimia sintetis', dan 'tanpa bahan tambahan'.

Sebaliknya, konsumen yang lebih tua cenderung lebih tertarik pada klaim dasar seperti 'tanpa bahan buatan', dan 'tanpa pewarna atau perasa buatan'.

Studi ini juga menunjukkan preferensi yang kuat terhadap bahan nabati, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, kedelai, tahu, serta ekstrak buah dan sayuran, sebagai sumber protein yang lebih disukai dibandingkan protein hewani, seperti telur, unggas, daging merah, dan ikan.

 

Baca juga: Jangan Kebanyakan! Ini Dampak Buruk Konsumsi Jahe Berlebihan

 

Biji-bijian utuh seperti gandum, quinoa, dan millet lebih diterima sebagai bahan dasar untuk camilan, meskipun banyak konsumen tidak menganggapnya sebagai sumber protein.

Hal ini disebabkan oleh persepsi umum bahwa serat biji-bijian lebih dikenal untuk kesehatan pencernaan dibandingkan sebagai sumber protein.

Dengan lebih banyak edukasi tentang manfaat nutrisi lain dari biji-bijian utuh, ada peluang untuk menargetkan dan mengembangkan segmen ini dalam pasar camilan.

 

Baca juga: Waspada Kekurangan Gula Darah, Ini Tanda-tandanya

 

Konsumen di Indonesia juga menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap produk camilan baru yang mengandung buah asli, buah kering, atau ekstrak buah.

Sekitar 70 persen konsumen lebih memilih camilan yang diperkaya dengan mikronutrien seperti vitamin A dan C, menunjukkan bahwa perhatian terhadap peningkatan sistem kekebalan masih tinggi meskipun pandemi telah mereda.

Konsumsi camilan yang kaya serat dan mengandung probiotik menjadi salah satu tren utama di Indonesia, karena konsumen semakin mencari cara untuk mendukung pencernaan yang sehat dan meningkatkan kesehatan usus.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved