Sidang Sengketa Pilpres 2024

Tim Hukum AMIN: Suara Prabowo-Gibran Melonjak Karena Peran Jokowi dan Bansos

Menurutnya, survei pada 2023 menunjukkan bahwa sebelum berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka, elektabilitas Prabowo hanya sekitar 24,6 persen.

Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
Tangkapan Layar Kompas TV
Tim Hukum Nasional (THN) pasangan capres-cawapres nomor urut 1 Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar menyebut melonjaknya suara Prabowo Subianto di Pilpres 2024 tidak lepas dari tindakan tidak netral Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

TRIBUNTORAJA.COM, JAKARTA - Bambang Widjojanto, anggota Tim Hukum Nasional (THN) pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 1 Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN), mengungkapkan bahwa peningkatan suara Prabowo Subianto di Pilpres 2024 tidak terlepas dari campur tangan yang tidak netral dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dalam sidang sengketa Pilpres 2024 di Mahkamah Konstitusi (MK) pada Rabu (27/3/2024), Bambang Widjojanto membandingkan elektabilitas Prabowo Subianto pada Pilpres 2014, 2019, dan 2024.

 

 

Menurutnya, survei pada 2023 menunjukkan bahwa sebelum berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka, elektabilitas Prabowo hanya sekitar 24,6 persen.

Namun, setelah berpasangan dengan putra sulung Jokowi tersebut, elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran naik di atas 30 persen dan bahkan mencapai 51,8 persen pada Februari 2024 sebelum pemungutan suara.

 

Baca juga: Gugat Hasil Pilpres 2024, Ganjar Pranowo: Untuk Jaga Kewarasan

 

"Dengan membandingkan survei sebelum dan setelah intervensi kekuasaan, terdapat kenaikan yang tidak wajar sebesar 34 persen hanya dalam waktu 5 bulan mulai Oktober 2023 hingga Februari 2024," ujarnya.

"Ini menunjukkan adanya intensi kecurangan yang sangat besar," tambahnya.

 

Baca juga: Ajukan Perlindungan ke LPSK, Tim Hukum AMIN Sebut Saksi Sengketa Pilpres 2024 Diintimidasi

 

Bambang juga menyebut bahwa lonjakan suara Prabowo-Gibran tidak lepas dari pelanggaran berupa keterlibatan lembaga kepresidenan, yaitu kampanye terselubung Jokowi dalam kunjungan kerjanya ke berbagai daerah yang disertai dengan pembagian bantuan sosial (bansos).

"Ia melakukan kampanye di wilayah yang sebelumnya suara Prabowo Subianto rendah pada Pemilu 2014 dan 2019, dengan target pemilih sekitar 27 juta," ujarnya.

"Banyak kunjungan Jokowi, terutama di Jawa Tengah, yang diikuti dengan distribusi bansos yang besar. Intervensi terhadap aparaturnya sangat besar, dan suara pasangan 02 juga meningkat secara signifikan," tambahnya.

 

Baca juga: Ini Petitum Kubu Ganjar-Mahfud di Sidang Sengketa Pilpres 2024

 

Bambang juga mengambil contoh peningkatan suara Prabowo di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Pada 2014, Prabowo-Hatta Rajasa hanya mendapatkan 21,91 persen suara.

Pada 2019, suara Prabowo-Sandiaga Uno menurun menjadi 9,01 persen.

 

Baca juga: Sidang Sengketa Pilpres 2024 Dimulai, Ini Isi Petitum Kubu Anies-Muhaimin

 

"Tetapi pada tahun 2024, suara Prabowo-Gibran mencapai 75,39 persen, yang berarti terjadi peningkatan yang signifikan sebesar 66,38 persen," ujarnya.

Berdasarkan penelitian tersebut, Bambang meyakini bahwa intervensi bansos dan penggunaan aparat negara dapat memengaruhi peningkatan suara Prabowo-Gibran.

"Kami yakin bahwa peningkatan ini bukanlah karena keputusan bijak pemilih, melainkan karena intervensi yang kuat dari bansos, kunjungan politik, dan sebagian aparat negara," kata Bambang.

(*)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved