Perang Israel Palestina
PBB Sebut Seorang Anak Palestina Mati Terbunuh Setiap 10 Menit
Israel melancarkan serangan udara dan darat ke Jalur Gaza setelah serangan lintas batas oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada 7 Oktober lalu
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/korban-anak-dan-wanita.jpg)
Selain jumlah korban yang tinggi dan pengungsian besar-besaran akibat pengepungan Israel di wilayah tersebut, pasokan bahan pokok, listrik, bahan bakar, dan air bersih juga semakin menipis bagi 2,3 juta penduduk Gaza yang terkepung total dan dibombardir Israel.
Di New York, Senin (6/11/2023), Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan, Gaza kini sudah menjadi “kuburan bagi anak-anak” akibat serangan militer tanpa pandang bulu dari Israel.
Baca juga: Mesir Ngamuk Dengar Usulan Menteri Israel yang Ancam Jatuhkan Bom Nuklir di Gaza
“Perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi yang utama,” ujar Guterres.
“Kita harus segera mencari jalan keluar dari kebuntuan yang mengerikan ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Guterres juga kembali menyerukan gencatan senjata kemanusiaan.
Baca juga: Ratusan Warga Israel Demo di Rumah Perdana Menteri Netanyahu
Israel tidak peduli dengan tuntutan internasional yang semakin besar untuk gencatan senjata, dan mengatakan sandera yang diambil oleh kelompok militan Hamas selama serangan mereka di selatan Israel pada 7 Oktober harus dilepaskan terlebih dahulu.
Para pemimpin PBB juga menuntut perang harus dihentikan sekarang.
“Sebuah populasi dikepung dan diserang, tanpa akses ke kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, dibom di rumah mereka, tempat perlindungan, rumah sakit, dan tempat ibadah mereka. Ini tidak dapat diterima. Kita perlu gencatan senjata kemanusiaan segera. Sudah 30 hari. Cukup sudah. Ini harus dihentikan sekarang," ujar mereka.
Baca juga: Serangan Israel ke Jalur Gaza Tewaskan 88 Staff PBB
Pernyataan itu ditandatangani oleh 18 pihak, termasuk Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus, dan Kepala Bantuan PBB Martin Griffiths.