Perang Israel Palestina
PBB Sebut Seorang Anak Palestina Mati Terbunuh Setiap 10 Menit
Israel melancarkan serangan udara dan darat ke Jalur Gaza setelah serangan lintas batas oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada 7 Oktober lalu
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/korban-anak-dan-wanita.jpg)
Serangan udara, darat, dan laut di Gaza semalam adalah salah satu yang paling intens sejak Israel memulai serangannya setelah serangan pada 7 Oktober, di mana Hamas menewaskan 1.400 orang dan menawan lebih dari 240 orang.
Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan puluhan orang tewas akibat serangan udara Israel di Kota Gaza dan lingkungan Gaza selatan seperti Zawaida dan Deir Al-Balah.
Baca juga: Israel Tuduh RS Indonesia Lindungi Terowongan Hamas, MER-C Membantah
Sumber medis mengatakan setidaknya 75 warga Palestina tewas dan 106 luka-luka dalam serangan tersebut.
Pejabat kesehatan mengatakan delapan orang tewas dalam serangan udara di Rumah Sakit Kanker Rantissi di Kota Gaza.
Orang-orang mencari korban atau yang selamat di kamp pengungsi Maghazi di Gaza, di mana kementerian kesehatan mengatakan pasukan Israel menewaskan setidaknya 47 orang dalam serangan pada hari Minggu.
Baca juga: Usul Jatuhkan Bom Nuklir di Gaza, Pejabat Israel: Warga Palestina Bisa ke Irlandia Atau Gurun Pasir
“Dari malam sampai pagi, saya dan pria lain mencoba mengeluarkan mayat dari puing-puing. Kami menemukan anak-anak, tubuh yang terpotong-potong," kata Saeed al-Nejma, 53 tahun.
Dalam serangan terpisah, 21 warga Palestina dari satu keluarga tewas dalam serangan udara, kata Kementerian Kesehatan.
Pasukan militer Israel berkilah serangannya menyasar "terowongan, teroris, kompleks militer, pos pengamatan, dan pos peluncuran peluru anti-tank".
Baca juga: Tuduh Lakukan Kejahatan Perang, Turki Bergerak Seret Israel ke Pengadilan Pidana Internasional
Pasukan darat membunuh beberapa pejuang Hamas saat merebut kompleks milisi yang berisi pos pengamatan, area pelatihan, dan terowongan bawah tanah.
Upaya diplomatik Amerika Serikat (AS) di wilayah ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko eskalasi konflik.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken melakukan perjalanan ke Ankara untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, yang menyatakan perlunya gencatan senjata di Gaza diumumkan segera.
(*)