Kamis, 7 Mei 2026

Ramadhan

Ramadhan: Menjaga Iman yang Fluktuatif

Betapa tidak, Ramadhan senantiasa memberikan harapan akan adanya peningkatan amaliah-amaliah surgawi.

Tayang:
Editor: Muh. Irham
zoom-inlihat foto Ramadhan: Menjaga Iman yang Fluktuatif
ist
Supriadi SAg MPdI 

Jadi iman itu akan terus terpelihara manakala dekat dengan suasana yang mendukung pemeliharaannya.

Al-Qur’an memberikan sebuah gambaran bahwa iman itu laksana sebuah pohon yang akarnya menghujam kuat ke bumi dan rantingnya menggapai ke langit. Iman yang baik senantiasa teruji dengan berbagai persoalan kehidupan dan lingkungan yang memengaruhinya.

Semakin tinggi sebuah pohon, akan semakin kencang angin yang menerpanya. Ini akan menunjukkan kualitas kekuatan pohon tersebut. Berbeda dengan pohon yang tidak pernah diterpa angin, hanya akan tampak biasa-biasa saja.

Seorang santri di pesantren yang senantiasa membaca Al Qur’an, belajar dengan tekun, ibadah yang rajin, sangat mungkin untuk memelihara imannya. Tapi bagaimana dengan siswa di luar pesantren yang setiap harinya dipengaruhi oleh lingkungan yang bervariasi? Bagaimana pula bisa mempertahankan iman di tengah berbagai pengaruh buruk yang ada?

Allah Yang Maha Mengetahui dan sayang dengan hambanya mendatangkan bulan Ramadhan agar manusia bisa kembali kepadaNya, terus merintih dan bermunajat kepadaNya agar kekuatan iman bisa terus terjaga dan terpelihara.

Karenanya, ada beberapa cara yang bisa dijadikan acuan agar manusia mampu untuk terus memelihara dan merawat serta meningkatkan iman kepada Allah swt.

Pertama, sisihkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu, pengajian, ceramah diskusi agama, dan sebagainya. Perbanyaklah kesempatan untuk mendengarkan informasi-informasi keagamaan melalui berbagai media yang mendukung.

Hal ini membantu meningkatkan pemahaman terhadap Isladan ajaram nnya. Ada banyak informasi keagamaan selama bulan Ramadhan yang semuanya mendukung untuk peningkatan wawasan keislaman.

Kedua, membaca Al-Qur’an (tadabbur) dengan memahami makna yang terkandung di dalamnya dan mengaitkan dengan fenomena dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuai dengan anjuran Islam agar mengoptimalkan fungsi fikir sebagai karunia pembeda yang Allah berikan kepada manusia.Selain itu, membaca al-Qur’an apalagi di bulan Ramadhan tentu saja akan mendatangkan pahala yang luar biasa.

Ketiga, meninggalkan hal-hal yang menodai iman, dalam hal ini tentu saja dosa dan kemusyrikan. Imam Al Ghazali memberikan peringatan bahwa hati manusia seperti sebuah cermin yang jika tidak dibersihkan, maka setiap harinya debu yang menempel akan semakin banyak bahkan lama kelamaan akan sulit dikeluarkan dan tidak bisa bercermin lagi karena cerminnya buram. Suasana Ramadhan sangat menunjang untuk tidak melakukan kemaksiatan.  

Keempat, meninggalkan hal-hal yang tidak berguna yang seringkali menjadi prioritas ketimbang persoalan lain yang bermanfaat. Sebut saja ngobrol yang tak jelas arahnya, ngerumpi, ngegosip yang kurang bemanfaat.

Guna menghindari hal tersebut, bulan Ramadhan memberikan sebuah penghargaan bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah. Artinya, ketika tidur, ia akan mampu menahan lisannya dari membicarakan hal-hal yang kurang bermanfaat. Sampai-sampai, bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.

Kelima, hiasilah diri dengan zikir. Senantiasa mengingat Allah dalam segala bentuk. Zikir tidak saja zikir lisan tapi yang lebih penting adalah zikir amali (perbuatan).

Kalau sekedar zikir lisan, semua orang bisa melaksanakannya bahkan non muslim pun bisa menyebutnya kalau hanya sekedar Alhamdulillah, subhanallah, masya Allah, astaghfirullah dan sebagainya. Tapi perbuatan menjauhi maksiat yang merupakan zikir amali inilah yang harus diperhatikan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved