Ramadhan

Ramadhan: Menjaga Iman yang Fluktuatif

Betapa tidak, Ramadhan senantiasa memberikan harapan akan adanya peningkatan amaliah-amaliah surgawi.

Editor: Muh. Irham
ist
Supriadi SAg MPdI 

Penulis: Supriadi SAg MPdI

Staf Pengajar SMA Negeri 1 Manado, Ketua DPW Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Prov. Sulawesi Utara, Sekretaris Umum Yayasan Karya Islamiyah Manado

KEDATANGAN  bulan Ramadhan senantiasa dinanti dan terus disyukuri oleh mereka yang beriman dan mengharapkan ridha Allah Swt. Jauh-jauh hari para salafussaleh bahkan sudah melakukan persiapan untuk menyambutnya.

Tidak hanya ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, bahkan enam bulan sebelumnya. Betapa tidak, Ramadhan senantiasa memberikan harapan akan adanya peningkatan amaliah-amaliah surgawi.

Siapapun tentu akan tergiur dengan dilipatgandakannya pahala amalan bagi yang berpuasa sampai dengan 700 kali lipat. Karenanya Ramadhan akan terus dinanti dan diharapkan kedatangannya bila perlu sepanjang tahun seluruhnya adalah bulan Ramadhan mengingat banyaknya kebaikan dan keutamaan di dalamnya.

Tapi demikianlah Allah mempergilirkan malam dan siang untuk mereka yang senantiasa menggunakan fungsi fikirnya yang pada akhirnya bermuara pada taqwa.

Taqwa inilah yang menjadi sebaik-baik bekal yang kelak akan dibawa untuk menghadap kepada Sang Pencipta Ilahi Rabbi. Hanya dengan bekal taqwa pula manusia yang beriman mampu mempersiapkan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat yang lebih baik.

Kehidupan manusia senantiasa dihinggapi oleh banyak peristiwa dan kejadian yang silih berganti. Demikian pula suka duka dan banyaknya persoalan yang dihadapi setiap individu, terkadang membuatnya hilang kendali. Pemecahannya pun dihadapi dengan berbagai cara. Ada yang berusaha dengan cara yang positif, tidak jarang pula dengan cara negatif. 

Namun satu hal yang harusnya tetap terkendali yaitu iman kepada Allah Swt. Iman adalah masalah keyakinan. Dalam Islam, Rasulullah Saw. memberikan pedoman bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Jika demikian, maka iman itu fluktuatif.

Terkadang ada di atas, tidak jarang pula ada di bawah. Ada saatnya sangat kuat, tidak jarang lemah. Barangkali bisa diibaratkan seperti grafiknya orang yang sedang koma di rumah sakit.

Boleh jadi, iman seseorang tetap berada di puncak ketika suasana yang melingkupinya mendukung untuk pemeliharaan iman tersebut.

Para sahabat Nabi saw. pernah mengalami hal ini sebagaimana dalam sebuah riwayat, sahabat bertanya kepada Rasulullah,

”Ya Rasulallah, pada saat kami berada di masjid, seakan-akan kami benar-benar merasa dekat dengan Allah, ingin selalu beribadah kepadaNya tapi setelah keluar dari masjid, perlahan-lahan perasaan itu memudar.”

Rasulullah pun memberikan penjelasan bahwa sesungguhnya beliaupun mengalami hal yang sama sehingga setiap harinya tidak kurang dari 70 hingga 100 kali beliau beristighfar memohon ampun kepada Allah. Lalu bagaimana dengan manusia biasa? Ini memberikan motivasi bagi semua orang untuk terus bermuhasabah dan memperhatikan masalah keimanan kepada Allah Swt.

Ibarat sebuah handphone, jika secara terus menerus digunakan maka ia akan mengalami low battery. Karenanya perlu dicharge agar ada powernya lagi. Untuk menchargenya, perlu dekat-dekat dengan lokasi yang ada sumber listrik.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved