Kopi Toraja
Kopi Toraja: Emas Hitam Pencetus Perang
Perang biasanya dipicu perebutan daerah kekuasaan, minyak bumi, emas, hingga Perang Troya yang dipicu oleh perebutan wanita.
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/rantepao-jadul-1940an-1112023.jpg)
Pada saat itu kerajaan Luwu sudah menguasai dataran tinggi Sa'dan.
Disadur dari buku "From Coffee Wars to Kalosi Market" karya Reny Sri Ayu dan Gregorius M Finesso (2018), Puang Makale, Laso' Bai, mewakili Tallu Lembangna, sebutan untuk aliansi Makale, Sangalla', dan Mengkendek, meminta bantuan kerajaan Sidenreng dan Enrekang untuk mengakhiri monopoli pedagang Luwu.
Monopoli perdagangan kopi berhenti selama 10 tahun.
Tetapi, para pedagang yang dipimpin oleh Lamadukelleng kembali ke Toraja untuk memonopoli ulang perdagangan kopi Toraja di Enrekang.
Para Puang, sebutan untuk pemimpin di Toraja, dari Tallu Lembangna kembali meminta bantuan kerajaan Enrekang dan Sidenreng.
Baca juga: Perubahan Iklim Pengaruhi Produksi Kopi di Toraja
Akhirnya, La Tanro Arung Buttu, raja Enrekang ke-14 bertemu dengan prajurit dari Kerajaan Bone dan mengeluarkan peraturan.
Peraturan tersebut melarang para pedagang kopi untuk melewati Bambapuang di Enrekang.
Para pedagang kopi juga dilarang melewati Sidenreng, Wajo, dan Luwu untuk berdagang.
Mereka hanya boleh berdagang melalui Pinrang.
Peraturan tersebut dituruti oleh semua pihak dan menjadi solusi utama.
Perang Kopi berakhir pada 1890 tanpa kemenangan salah satu pihak.
Hal ini menjadi alasan kenapa beberapa pecinta kopi di dunia menyebut kopi Toraja sebagai 'war coffee', atau kopi perang.
Meski demikian, banyak yang lupa bahwa kopi adalah faktor pendorong perang ini.