Kopi Toraja
Kopi Toraja: Emas Hitam Pencetus Perang
Perang biasanya dipicu perebutan daerah kekuasaan, minyak bumi, emas, hingga Perang Troya yang dipicu oleh perebutan wanita.
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/rantepao-jadul-1940an-1112023.jpg)
Periode 1890-an merupakan masa yang penuh gejolak bagi Toraja karena alasan di luar biji kopi dan jalur perdagangan.
Dampak Perang Kopi
Ditulis oleh Terance W Bigalke dalam bukunya "The Social History of Tana Toraja" (2005), kopi menjadi komoditas bernilai tinggi akibat perang tersebut.
Meski demikian, trademarking kopi dari Sulawesi Selatan terjadi di Pasar Kalosi oleh Belanda pada jaman kolonialisme.
Kalosi dipilih karena merupakan titik strategis di jalan utama yang menghubungkan Toraja dan Makassar.
Dilansir dari situs The Primadonna Life, di Toraja sendiri perkebunan kopi belum banyak berubah.
Kebanyakan kopi yang diproduksi di Toraja berasal dari petani-petani kecil dengan produksi yang cukup rendah, sekitar 300 kilogram per hektar.
Hal ini menyebabkan kopi Toraja menjadi komoditas yang makin dicari-cari karena keistimewaannya.
Hingga kini, kopi Toraja masih dipetik dan disortir dengan tangan, sebuah proses yang menjamin kualitas kopi bagi para konsumen.
Baca juga: Segini Luas Perkebunan PT Toarco Jaya, Perusahaan Kopi Mendunia di Toraja
Dari Kolonial Belanda Menjadi Perusahaan Indonesia
Pada awal 1900, kolonial Belanda mulai memodernisasi kebun kopi.
Van Dijk membuka kebun kopinya di Toraja.