Sabtu, 9 Mei 2026

Kopi Toraja

Kopi Toraja: Emas Hitam Pencetus Perang

Perang biasanya dipicu perebutan daerah kekuasaan, minyak bumi, emas, hingga Perang Troya yang dipicu oleh perebutan wanita.

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Kopi Toraja: Emas Hitam Pencetus Perang
IST/KITLV Leiden
Pemandangan jalan dengan sekolah keagamaan di sebelah kanan di kota Rantepao Tana Toraja Sulawesi Selatan, sekitar tahun 1940. 

TRIBUNTORAJA.COM - Sepanjang sejarah, manusia memulai perang dengan berbagai macam alasan.

Perang biasanya dipicu perebutan daerah kekuasaan, minyak bumi, emas, hingga Perang Troya yang dipicu oleh perebutan wanita.

Di Indonesia sendiri, biji kopi pernah dijadikan alasan untuk memulai perang.

Kisah ini dimulai di Tana Toraja, sebuah daerah pegunungan yang terletak sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut di Sulawesi Selatan.

Daerah ketinggian, tanah yang sedikit asam, jumlah curah hujan yang tepat, dan lonjakan suhu antara siang dan malam, membuat Toraja dianggap sebagai tempat ideal untuk menanam tanaman kopi.

Toraja dikenal dunia sebagai penghasil beberapa jenis biji kopi terbaik Indonesia.

Dulu, kopi dianggap sebagai komoditas langka dan barang mewah, terutama ketika pertama kali diperkenalkan oleh Belanda pada masa penjajahan di akhir abad ke-17, dan pertama kali dibawa ke Toraja pada tahun 1850-an.

Pada tahun 1876, datangnya penyakit karat, penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur patogen, mempengaruhi sejumlah besar perkebunan kopi besar di Jawa, sehingga penanaman kopi oleh petani kecil di Toraja menjadi bisnis yang berkembang pesat.

Sayangnya, hal ini menjadi pemicu sebuah perang bersejarah, Perang Kopi.

Perang Kopi terjadi antara penduduk asli Toraja dan suku Bugis, salah satu suku terbesar di Sulawesi Selatan.

 

Baca juga: Cara Unik Sajikan Kopi Toraja Nikmat Ala Masyarakat Saluputti

 

Perang Kopi
Akibat wabah penyakit karat tersebut, kopi Toraja langsung berubah menjadi komoditas yang berharga.

Hal ini membuat semua orang ingin menguasai dan memilikinya, termasuk jalur suplai dan perdagangan.

Berdasarkan Lontara Enrekang, Perang Kopi dimulai sekitar tahun 1887-1888 yang disebabkan oleh keinginan kerajaan Luwu untuk memonopoli perdagangan kopi di Tana Toraja.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved