Minggu, 3 Mei 2026

Ada Ladang Ganja 51,75 Hektare di Gunung Leuser Aceh 

Ladang-ladang tersebut sebagian besar berada di kawasan hutan lindung dan taman nasional, sehingga berpotensi merusak ekosistem.

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Ada Ladang Ganja 51,75 Hektare di Gunung Leuser Aceh 
tribunnews
LADANG GANJA - Aparat berwajib melakukan perjalanan menuju ladang ganja seluas 51,75 hektare di Gunung Leuser, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Selasa (18/11/2025). 

TRIBUNTORAJA.COM – Tim Dittipidnarkoba Bareskrim Polri memusnahkan ladang ganja seluas 51,75 hektare di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Gayo Lues, Aceh, Selasa (18/11/2025).

Pemusnahan dilakukan di 26 titik lokasi yang berada di wilayah perbukitan Kecamatan Pining.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, mengatakan pemusnahan dilakukan bersama TNI, Bea Cukai, BNNK, Forkopimda Gayo Lues, dan petugas Balai Taman Nasional.

“Total ada 26 titik dengan luas 51,75 hektare. Seluruh tanaman dimusnahkan di lokasi,” ujarnya.

Untuk mencapai lokasi, tim menempuh perjalanan darat sekitar 15 jam dari Bandara Kualanamu menuju Blangkejeren, dilanjutkan jalur pegunungan ekstrem menggunakan kendaraan double cabin dan berjalan kaki.

Tim juga melewati jalur sungai, tebing curam, dan hutan lebat yang menjadi habitat satwa liar.

Pendakian dilakukan sejauh lima kilometer dari pos pendakian hingga titik ladang.

Di lokasi, petugas menemukan hamparan tanaman ganja setinggi 50 cm hingga 1,5 meter, serta sebuah gubuk yang diduga digunakan untuk mengolah ganja sebelum didistribusikan.

Tanaman ganja basah dan kering kemudian dikumpulkan dan dibakar di lokasi.

Sebagian sampel dibawa ke laboratorium forensik di Jakarta.

Operasi ini merupakan tindak lanjut penangkapan dua pengedar, Suryansyah (35) dan Hardiansyah (38), di Deli Serdang, Sumatera Utara, Kamis (13/11/2025).

Keduanya mengaku mendapatkan ganja dari seseorang berstatus DPO di Blangkejeren.

Dalam penggeledahan, polisi menyita 47 bal ganja atau sekitar 47 kilogram dari kamar tersangka.

“Tes urine keduanya positif amphetamine dan THC,” kata Brigjen Eko.

Temuan ladang ganja berskala besar di Gayo Lues kembali menegaskan Aceh sebagai salah satu wilayah utama produksi ganja di Indonesia.

Ladang-ladang tersebut sebagian besar berada di kawasan hutan lindung dan taman nasional, sehingga berpotensi merusak ekosistem.

Aparat menyebut jaringan distribusi ganja di Aceh terorganisir dan memiliki rantai pasok yang kuat.

Pemusnahan ladang di Gunung Leuser menjadi salah satu operasi terbesar dalam dua tahun terakhir.

Pihak kepolisian menyatakan operasi lanjutan akan dilakukan untuk mengejar pemilik ladang sekaligus menutup jalur distribusi ganja dari Aceh ke berbagai daerah di Indonesia.

Situs Warisan Dunia

Gunung Leuser adalah sebuah gunung berapi strato di Provinsi Aceh  dengan ketinggian mencapai 3.466 meter di atas permukaan laut.

Gunung ini merupakan puncak tertinggi kedua di Sumatera dan menjadi bagian penting dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO yang terkenal sebagai "paru-paru dunia".

Gunung Leuser terletak di perbatasan provinsi Aceh (Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Gayo Lues) dan Sumatera Utara (Kabupaten Langkat dan Karo).

Puncak utamanya berada di 3.466 mdpl.

Terdapat beberapa puncak lain di jajaran pegunungan ini, termasuk Puncak Loser dan Puncak Tanpa Nama.

Kawasan ini diakui sebagai Cagar Biosfer UNESCO dan Taman Warisan ASEAN, menjadikannya area konservasi yang sangat penting secara global. 
 
Gunung Leuser berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) seluas 6,5 juta hektar, habitat hutan hujan tropis yang tersisa di mana empat spesies ikonik terancam punah masih hidup berdampingan secara alami.

Yaitu Orangutan Sumatera, Badak Sumatera, Gajah Sumatera, dan Harimau Sumatera. 

Selain itu, kawasan ini juga menjadi rumah bagi bunga langka Rafflesia achehensis, beruang madu, burung rangkong, dan ribuan spesies tumbuhan lainnya.

Keanekaragaman hayati ini menjadikannya laboratorium alam raksasa dan pusat penelitian hayati yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. 

Mendaki Gunung Leuser dikenal sebagai ekspedisi yang menantang dan memuaskan karena medannya yang panjang dan kompleks, sehingga memakan waktu seminggu penuh. 

Curah hujan yang tinggi di hutan hujan tropisnya dapat membuat jalur pendakian menjadi licin.

Penggunaan jasa pemandu lokal yang berpengalaman sangat disarankan untuk keamanan dan navigasi. 

Daerah ini juga menjadi destinasi ekowisata populer, terutama untuk trekking dan pengamatan satwa liar, dengan fasilitas seperti Stasiun Riset Ketambe yang menjadi pusat studi primata, khususnya orangutan Sumatera. (Tribun Network/abd/coz)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved