Minggu, 24 Mei 2026

Kasus Pengrusakan SMP PGRI Marinding, PN Makale Terapkan Restorative Justice

Pendekatan restorative justice dipilih sebagai upaya penyelesaian perkara pidana yang menitikberatkan pada pemulihan keadaan, dialog terbuka

Tayang:
zoom-inlihat foto Kasus Pengrusakan SMP PGRI Marinding, PN Makale Terapkan Restorative Justice
Tribun Toraja/Anastasya Saidong Ridwan
KASUS PENGRUSAKAN - Terdakwa Dahlan Kembong Bangnga Padang mengikuti persidangan kasus pengrusakan SMP PGRI Marinding, di Pengadilan Negeri Makale, Jalan Pongtiku, Kelurahan Pantan, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Rabu (4/2/2026). 

TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE -  Kasus dugaan pengrusakan fasilitas SMP PGRI Marinding, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Makale.

Sidang yang digelar pada Rabu (4/2/2026) tersebut berlangsung dengan pendekatan restorative justice atau keadilan restoratif.

Sidang dilaksanakan di ruang sidang PN Makale, Jalan Pongtiku, Kelurahan Pantan, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Pendekatan restorative justice dipilih sebagai upaya penyelesaian perkara pidana yang menitikberatkan pada pemulihan keadaan, dialog terbuka, serta kesepakatan antara pelaku, korban, dan unsur masyarakat.

Juru Bicara PN Makale, Yudhi Bombing, menjelaskan bahwa mekanisme keadilan restoratif tidak semata-mata menghapus unsur pidana, melainkan memberikan ruang penyelesaian secara kekeluargaan dengan mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan.

“Restorative justice mengedepankan pemulihan dan penyelesaian secara musyawarah. Namun proses ini tetap berada dalam koridor hukum dan tidak serta-merta menghilangkan unsur pidananya,” ujar Yudhi kepada wartawan.

Dalam sidang tersebut, majelis hakim menghadirkan sembilan orang saksi, di antaranya Kepala Sekolah SMP PGRI Marinding, empat orang guru, Camat Mengkendek, Kepala Lembang Marinding, operator alat berat ekskavator yang digunakan terdakwa, serta perwakilan masyarakat setempat.

Sebelum memberikan keterangan, seluruh saksi terlebih dahulu diperiksa identitasnya, termasuk hubungan keluarga dengan terdakwa.

Para saksi kemudian diambil sumpah sesuai dengan agama masing-masing, sebagai bagian dari prosedur persidangan.

Pada agenda dialog, majelis hakim menanyakan kesediaan terdakwa untuk bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan akibat peristiwa tersebut.

Terdakwa Dahlan Kembong Bangngapadang, yang juga merupakan anggota DPRD Tana Toraja, menyampaikan penyesalannya dan menegaskan tidak memiliki niat merusak fasilitas pendidikan.

“Saya ikut merintis sekolah ini dari awal, mulai dari pengurusan dokumen hingga sekolah berdiri. Apa yang terjadi saya anggap sebagai kekeliruan. Kita ini manusia biasa,” ujar Dahlan di hadapan majelis hakim.

Ia juga menyatakan kesediaannya memperbaiki seluruh kerusakan yang terjadi serta menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah, dunia pendidikan, dan Dinas Pendidikan.

Namun demikian, dalam persidangan turut disoroti dampak psikologis yang dialami para siswa akibat terganggunya proses belajar mengajar.

Pihak sekolah menyampaikan bahwa selama ruang kelas disegel, kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan di teras sekolah, bahkan sebagian siswa harus duduk di lantai karena ruang kelas tidak dapat digunakan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved