Besok Harkopnas ke-78, Begini Sejarah Lahirnya Hari Koperasi Indonesia
Tanggal ini merujuk pada Kongres Koperasi Nasional pertama yang digelar di Tasikmalaya, Jawa Barat, tahun 1947 atau dua tahun
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Harkopnas-ke-783errr.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Pegiat koperasi di Indonesia akan merayakan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-78 pada Sabtu (12/7/25).
Harkopnas tahun ini mengusung tema “Koperasi Maju Indonesia Adil dan Makmur”.
Ketua Umum Dekopin, Bambang Haryadi, mengatakan tema tersebut dipilih karena selaras dengan tujuan pemerintah yang ingin membangkitkan dan memasifkan kembali koperasi di Indonesia.
Sejarah Hari Koperasi
Setiap tanggal 12 Juli, bangsa Indonesia mengenang tonggak penting dalam sejarah perekonomian rakyat, yaitu Hari Koperasi Indonesia.
Momen ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan seruan untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong dan solidaritas ekonomi yang telah diwariskan para pendiri bangsa.
Penetapan 12 Juli sebagai Hari Koperasi bukan tanpa alasan.
Tanggal ini merujuk pada Kongres Koperasi Nasional pertama yang digelar di Tasikmalaya, Jawa Barat, tahun 1947 atau dua tahun setelah Indonesia merdeka.
Di tengah situasi politik yang belum stabil, para pejuang ekonomi rakyat berkumpul dan melahirkan keputusan monumental, yakni mendirikan Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) dan menetapkan 12 Juli sebagai Hari Koperasi Nasional.
Pilihan Tasikmalaya pun sarat makna. Saat itu, Bandung masih dikuasai Belanda.
Maka, Tasikmalaya menjadi saksi bisu semangat perjuangan ekonomi rakyat Indonesia.
Kini, Tugu Koperasi berdiri megah di Tasikmalaya, mengabadikan semangat juang yang tak tergoyahkan oleh zaman.
Namun, kisah koperasi di Indonesia telah dimulai jauh sebelum itu.
Tahun 1896, seorang patih bernama Raden Aria Wiria Atmaja menggagas koperasi kredit bagi para pegawai negeri di Purwokerto, yang terinspirasi dari model koperasi di Jerman.
Langkah berani ini mendapat dukungan dari pejabat Belanda, De Wolff van Westerrode, yang kemudian mendorong pendirian Bank Pertolongan, Tabungan, dan Pertanian.
| 12 Kopdes Merah Putih di Toraja Utara Siap Dialiri Listrik PLN |
|
|---|
| 318 Pengurus Koperasi Desa se-Tana Toraja Ikuti Pelatihan Kapasitas Menuju Indonesia Emas 2045 |
|
|---|
| 3.059 Koperasi Merah Putih Terbentuk di Sulsel, Tercepat se-Indonesia |
|
|---|
| 896 Koperasi Merah Putih di Sulsel Kantongi SK Pendirian |
|
|---|
| Dorong MBG dan Koperasi Desa di Tana Toraja, Zadrak Tombeg Temui Wamendes di Jakarta |
|
|---|