Rabu, 15 April 2026

Kesehatan

Dari FOMO ke JOMO: Apa Bedanya dan Bagaimana Dampaknya?

Dengan mengadopsi prinsip JOMO, kita dapat lebih tenang dan menikmati hidup tanpa merasa terbebani oleh keharusan mengikuti semua tren.

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Dari FOMO ke JOMO: Apa Bedanya dan Bagaimana Dampaknya?
Freepik
Ilustrasi. 

TRIBUNTORAJA.COM - Tidak hanya fenomena FOMO (fear of missing out) yang telah populer, kini tren JOMO (joy of missing out) juga semakin digemari masyarakat.

Berbeda dari FOMO, JOMO mengajarkan seseorang untuk merasa puas dan bahagia tanpa harus terlibat dalam semua hal yang sedang viral atau populer.

Berbeda dengan FOMO yang bisa berdampak negatif pada kesehatan mental, JOMO justru diyakini membawa manfaat positif.

 

 

Tren ini menjadi jawaban atas masalah yang sering timbul dari FOMO, seperti stres dan kecemasan.

Mengutip Cleveland Clinic, JOMO melibatkan rasa kepuasan dan kebahagiaan dengan memilih untuk tidak terlibat dalam aktivitas tertentu demi fokus pada perawatan diri.

Konsep ini mengajarkan seseorang untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan pribadi, bukan karena tekanan dari luar.

 

Baca juga: Treasury Well-Being, Program Untuk Menjawab Masalah Kesejahteraan Mental Pegawai DJPb

 

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa JOMO dapat memberikan perasaan nyaman dan membantu seseorang menjaga keseimbangan dari hal-hal yang mungkin berdampak negatif.

Langkah-langkah menuju JOMO meliputi melepaskan diri dari media, merawat diri, menikmati momen yang sedang berlangsung, dan menghargai ketenangan serta waktu sendiri.

 

Baca juga: Liam Payne Ternyata Pernah Mengalami Masalah Kesehatan Mental Saat Masih di One Direction

 

Langkah-langkah Beralih dari FOMO ke JOMO 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved