Waspada Penyakit Latto-latto yang Menyerang Sapi dan Kerbau, Ini Cara Pencegahannya
Tanda-tanda lainnya, sambung dia, ialah hewan menunjukkan kepincangan, kekurusan, dan khusus untuk sapi perah, akan terjadi penghentian produksi susu.
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/ilustrasi-penyakit-latto-latto-lsd-sapi-kerbau-2452023.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Penyakit kulit Lumpy Skin Disease (LSD) atau yang dikenal sebagai penyakit latto-latto di kalangan peternak mulai menyebar luas, terutama di wilayah Gunungkidul, DI Yogyakarta.
Tingginya tingkat penularan penyakit ini mengkhawatirkan banyak pihak, apalagi mendekati perayaan Hari Raya Iduladha 2023.
Guru Besar Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Widya Asmara menjelaskan bahwa LSD atau latto-latto merupakan penyakit yang menyerang sapi dan kerbau akibat infeksi virus.
Gejala sapi atau kerbau yang terserang virus LSD, kata Prof Widya, sangat bervariasi, mulai dari gejala ringan hingga berat.
Ia menerangkan, gejala umum LSD diawai dengan demam dan kadang diikuti keluarnya ingus maupun leleran dari konjungtiva mata.
Sedangkan gejala khusus LSD adalah munculnya nodul-nodul pada kulit hewan. Nodul atau bintil-bintil ini tampak menonjol dengan diameter 2 hingga 5 cm, berbatas jelas, dan tersebar di daerah leher, punggung, perineum, ekor, tungkai, maupun organ genital.
Baca juga: Tiga Ekor Bangkai Babi Mengapung di Sungai Sadan, Diduga karena Terinfeksi ASF
“Nodul tersebut kemudian akan nekrosis dan meninggalkan luka yang dalam. Selain gejala pada kulit, biasanya dapat juga diikuti gejala pneumonia dengan lesi di mulut dan saluran pernafasan," ungkap Widya di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Senin (22/5/2023) dilansir dari situs UGM.
Tanda-tanda lainnya, sambung dia, ialah hewan menunjukkan kepincangan, kekurusan, dan khusus untuk sapi perah, akan terjadi penghentian produksi susu.
Pada kasus-kasus yang parah, penyakit latto-latto juga bisa menimbulkan kematian.
Baca juga: Flu Babi Afrika Makin Mengancam, Dinas Pertanian Toraja Utara Semprot Disinfektan ke Kandang Babi
Mengacu panduan organisasi pangan dan pertanian dunia FAO, Widya menambahkan, karkas hewan yang terkena penyakit ini dan menunjukkan lesi kulit bersifat lokal-ringan serta tidak ada demam harus dibuang.
Sebab, bagian tubuh hewan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi dan harus dimusnahkan.
Sedangkan bagian yang tidak ada lesi masih diperbolehkan untuk konsumsi setelah dimasak dengan pemanasan yang baik.
Baca juga: Kenali Penyakit ASF, Wabah Asal Afrika yang Serang Ternak Babi di Indonesia
“Tentunya karkas yang berasal dari hewan dengan kasus akut atau parah dilarang untuk dikonsumsi," imbuhnya.
Widya menuturkan, virus LSD penyebab penyakit ini termasuk dalam Famili Poxviridae yang dapat menular langsung melalui keropeng kulit dan leleran dari hewan sakit.
Penularan tidak langsung juga bisa terjadi melalui peralatan ternak maupun pakan dan minuman yang tercemar virus, atau melalui gigitan vektor (serangga penular).
Baca juga: Jangan Panik, Ini Cara Cegah Penyebaran Virus Flu Babi Afrika
Dia menambahkan, angka kematian penyakit latto-latto sangat bervariasi, sangat tergantung pada kondisi ternak dan ada atau tidaknya serangga penular, misalnya nyamuk, kutu, dan caplak.
“Umumnya, morbiditas atau angka kesakitan dapat mencapai 10 persen dan mortalitas atau angka kematian 1 – 3 persen," tuturnya.
Ia menerangkan, belum ada obat khusus anti virus LSD. Oleh karena itu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan.
Baca juga: Di Selandia Baru, Sapi Kentut dan Sendawa Dikenakan Pajak
Widya menyarankan agar sapi dapat diberi antibiotik untuk mengurangi infeksi. Kemudian, sapi atau kerbau yang terserang penyakit LSD juga bisa diberi obat pengurang rasa sakit agar tetap mau makan.
Sapi dan kerbau yang terserang LSD bisa sembuh apabila dalam kondisi baik dan tidak tampak sakit parah.
“Tersedia vaksin untuk mencegah, tapi ini untuk sapi yang tidak terinfeksi oleh virus Lumpy Skin Disease," katanya.
Baca juga: GALERI FOTO - Tedong: Simbol, Status, Jenis, dan Harga Kerbau dalam Budaya Toraja
Untuk mengantisipasi penularan LSD, agar tidak semakin menyebar, ia menyarankan vaksinasi bagi hewan yang sehat.
Selain itu, sejumlah upaya lain juga bisa dilakukan untuk mencegah penularan. Di antaranya menjaga kebersihan kandang dan memberantas serangga penular seperti nyamuk, kutu, dan caplak.
Ia juga menyarankan adanya pengawasan lalu-lintas ternak untuk mencegah masuknya hewan sakit ke daerah lain.
Virus juga dapat dibersihkan dengan beberapa larutan, di antaranya ether (20 persen), kloroform, formalin (1 persen), fenol (2 persen selama 15 menit), natrium hipoklorit (2-3 persen), senyawa yodium (pengenceran 1:33), dan senyawa amonium kuaterner ( 0,5 persen).
(*)