Waspada Penyakit Latto-latto yang Menyerang Sapi dan Kerbau, Ini Cara Pencegahannya
Tanda-tanda lainnya, sambung dia, ialah hewan menunjukkan kepincangan, kekurusan, dan khusus untuk sapi perah, akan terjadi penghentian produksi susu.
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/ilustrasi-penyakit-latto-latto-lsd-sapi-kerbau-2452023.jpg)
Mengacu panduan organisasi pangan dan pertanian dunia FAO, Widya menambahkan, karkas hewan yang terkena penyakit ini dan menunjukkan lesi kulit bersifat lokal-ringan serta tidak ada demam harus dibuang.
Sebab, bagian tubuh hewan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi dan harus dimusnahkan.
Sedangkan bagian yang tidak ada lesi masih diperbolehkan untuk konsumsi setelah dimasak dengan pemanasan yang baik.
Baca juga: Kenali Penyakit ASF, Wabah Asal Afrika yang Serang Ternak Babi di Indonesia
“Tentunya karkas yang berasal dari hewan dengan kasus akut atau parah dilarang untuk dikonsumsi," imbuhnya.
Widya menuturkan, virus LSD penyebab penyakit ini termasuk dalam Famili Poxviridae yang dapat menular langsung melalui keropeng kulit dan leleran dari hewan sakit.
Penularan tidak langsung juga bisa terjadi melalui peralatan ternak maupun pakan dan minuman yang tercemar virus, atau melalui gigitan vektor (serangga penular).
Baca juga: Jangan Panik, Ini Cara Cegah Penyebaran Virus Flu Babi Afrika
Dia menambahkan, angka kematian penyakit latto-latto sangat bervariasi, sangat tergantung pada kondisi ternak dan ada atau tidaknya serangga penular, misalnya nyamuk, kutu, dan caplak.
“Umumnya, morbiditas atau angka kesakitan dapat mencapai 10 persen dan mortalitas atau angka kematian 1 – 3 persen," tuturnya.
Ia menerangkan, belum ada obat khusus anti virus LSD. Oleh karena itu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan.
Baca juga: Di Selandia Baru, Sapi Kentut dan Sendawa Dikenakan Pajak