Opini
Santri Generasi Istimewa
Kalau kita merujuk kepada kamus besar bahasa Indonesia kata santri memiliki dua pengertian, yakni; orang yang mendalami agama Islam, beribadah...
Selain itu, karakter sukarela dalam mengabdi.
Hal itu tercermin dari kepasrahan seorang santri dalam belajar di pesantren.
Baca juga: Ramadhan: Menjaga Iman yang Fluktuatif
Secara sukarela dalam melakukan setiap aktifitas pembelajaran dan pembiasaan lainnya, meskipun tanpa diawasi seorang kiai atau ustaz.
Bahkan pada pesantren tertentu terdapat santri sengaja mengabdikan dirinya secara terus menerus kepada sang kiai.
Totalitas ini dilakukan karena santri meyakini, terdapat berkah yang akan didapat setelah melakukan pengabdian secara sukarela, secara sempurna kepada sang kiai atau ustaz.
Berkah itu berupa kesuksesan hidup dalam bermasyarakat kelak, menjadi tokoh agama, tokoh masyarakat yang juga rela berkorban dan mengabdi.
Santri identik juga dengan karakater kearifan, yakni bersikap sabar, rendah hati, patuh pada ketentuan hukum agama, mampu mencapai tujuan tanpa merugikan orang lain, dan mendatangkan manfaat bagi kepentingan bersama. Menghormati perbedaan dan keberagaman.
Dalam setiap keputusan yang diambil mempertimbangkan lokalitas dimana dia hidup. “di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, inilah kemudian membuat santri mudah diterima oleh semua kalangan.
Dan yang paling mencolok kesederhanaan dan kemandirian; adalah karekter khas santri, tidak tinggi hati dan sombong walau berasal dari orang kaya atau keturunan raja sekalipun.
Fasilitas pesantren serba terbatas berberan dalam membentuk karakter kesederhanaan dan kemandirian santri.
Sederhana dan mandiri bukan karena tidak mampu, tapi lebih menunjukkan pribadi yang peduli sesama, pribadi yang menyadari bahwa dunia adalah sementara.
(*)
Oleh:
Muhammad Tariq - Pegiat Literasi, Pemerhati Sosial, Penulis 'Lintas Analisis Kritis'.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Tariq-1-19122022.jpg)