Ramadhan
Ramadhan: Menjaga Iman yang Fluktuatif
Betapa tidak, Ramadhan senantiasa memberikan harapan akan adanya peningkatan amaliah-amaliah surgawi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Supriadi-Opini.jpg)
Penulis: Supriadi SAg MPdI
Staf Pengajar SMA Negeri 1 Manado, Ketua DPW Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Prov. Sulawesi Utara, Sekretaris Umum Yayasan Karya Islamiyah Manado
KEDATANGAN bulan Ramadhan senantiasa dinanti dan terus disyukuri oleh mereka yang beriman dan mengharapkan ridha Allah Swt. Jauh-jauh hari para salafussaleh bahkan sudah melakukan persiapan untuk menyambutnya.
Tidak hanya ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, bahkan enam bulan sebelumnya. Betapa tidak, Ramadhan senantiasa memberikan harapan akan adanya peningkatan amaliah-amaliah surgawi.
Siapapun tentu akan tergiur dengan dilipatgandakannya pahala amalan bagi yang berpuasa sampai dengan 700 kali lipat. Karenanya Ramadhan akan terus dinanti dan diharapkan kedatangannya bila perlu sepanjang tahun seluruhnya adalah bulan Ramadhan mengingat banyaknya kebaikan dan keutamaan di dalamnya.
Tapi demikianlah Allah mempergilirkan malam dan siang untuk mereka yang senantiasa menggunakan fungsi fikirnya yang pada akhirnya bermuara pada taqwa.
Taqwa inilah yang menjadi sebaik-baik bekal yang kelak akan dibawa untuk menghadap kepada Sang Pencipta Ilahi Rabbi. Hanya dengan bekal taqwa pula manusia yang beriman mampu mempersiapkan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat yang lebih baik.
Kehidupan manusia senantiasa dihinggapi oleh banyak peristiwa dan kejadian yang silih berganti. Demikian pula suka duka dan banyaknya persoalan yang dihadapi setiap individu, terkadang membuatnya hilang kendali. Pemecahannya pun dihadapi dengan berbagai cara. Ada yang berusaha dengan cara yang positif, tidak jarang pula dengan cara negatif.
Namun satu hal yang harusnya tetap terkendali yaitu iman kepada Allah Swt. Iman adalah masalah keyakinan. Dalam Islam, Rasulullah Saw. memberikan pedoman bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Jika demikian, maka iman itu fluktuatif.
Terkadang ada di atas, tidak jarang pula ada di bawah. Ada saatnya sangat kuat, tidak jarang lemah. Barangkali bisa diibaratkan seperti grafiknya orang yang sedang koma di rumah sakit.
Boleh jadi, iman seseorang tetap berada di puncak ketika suasana yang melingkupinya mendukung untuk pemeliharaan iman tersebut.
Para sahabat Nabi saw. pernah mengalami hal ini sebagaimana dalam sebuah riwayat, sahabat bertanya kepada Rasulullah,
”Ya Rasulallah, pada saat kami berada di masjid, seakan-akan kami benar-benar merasa dekat dengan Allah, ingin selalu beribadah kepadaNya tapi setelah keluar dari masjid, perlahan-lahan perasaan itu memudar.”
Rasulullah pun memberikan penjelasan bahwa sesungguhnya beliaupun mengalami hal yang sama sehingga setiap harinya tidak kurang dari 70 hingga 100 kali beliau beristighfar memohon ampun kepada Allah. Lalu bagaimana dengan manusia biasa? Ini memberikan motivasi bagi semua orang untuk terus bermuhasabah dan memperhatikan masalah keimanan kepada Allah Swt.
Ibarat sebuah handphone, jika secara terus menerus digunakan maka ia akan mengalami low battery. Karenanya perlu dicharge agar ada powernya lagi. Untuk menchargenya, perlu dekat-dekat dengan lokasi yang ada sumber listrik.
Jadi iman itu akan terus terpelihara manakala dekat dengan suasana yang mendukung pemeliharaannya.
Al-Qur’an memberikan sebuah gambaran bahwa iman itu laksana sebuah pohon yang akarnya menghujam kuat ke bumi dan rantingnya menggapai ke langit. Iman yang baik senantiasa teruji dengan berbagai persoalan kehidupan dan lingkungan yang memengaruhinya.
Semakin tinggi sebuah pohon, akan semakin kencang angin yang menerpanya. Ini akan menunjukkan kualitas kekuatan pohon tersebut. Berbeda dengan pohon yang tidak pernah diterpa angin, hanya akan tampak biasa-biasa saja.
Seorang santri di pesantren yang senantiasa membaca Al Qur’an, belajar dengan tekun, ibadah yang rajin, sangat mungkin untuk memelihara imannya. Tapi bagaimana dengan siswa di luar pesantren yang setiap harinya dipengaruhi oleh lingkungan yang bervariasi? Bagaimana pula bisa mempertahankan iman di tengah berbagai pengaruh buruk yang ada?
Allah Yang Maha Mengetahui dan sayang dengan hambanya mendatangkan bulan Ramadhan agar manusia bisa kembali kepadaNya, terus merintih dan bermunajat kepadaNya agar kekuatan iman bisa terus terjaga dan terpelihara.
Karenanya, ada beberapa cara yang bisa dijadikan acuan agar manusia mampu untuk terus memelihara dan merawat serta meningkatkan iman kepada Allah swt.
Pertama, sisihkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu, pengajian, ceramah diskusi agama, dan sebagainya. Perbanyaklah kesempatan untuk mendengarkan informasi-informasi keagamaan melalui berbagai media yang mendukung.
Hal ini membantu meningkatkan pemahaman terhadap Isladan ajaram nnya. Ada banyak informasi keagamaan selama bulan Ramadhan yang semuanya mendukung untuk peningkatan wawasan keislaman.
Kedua, membaca Al-Qur’an (tadabbur) dengan memahami makna yang terkandung di dalamnya dan mengaitkan dengan fenomena dalam kehidupan sehari-hari.
Sesuai dengan anjuran Islam agar mengoptimalkan fungsi fikir sebagai karunia pembeda yang Allah berikan kepada manusia.Selain itu, membaca al-Qur’an apalagi di bulan Ramadhan tentu saja akan mendatangkan pahala yang luar biasa.
Ketiga, meninggalkan hal-hal yang menodai iman, dalam hal ini tentu saja dosa dan kemusyrikan. Imam Al Ghazali memberikan peringatan bahwa hati manusia seperti sebuah cermin yang jika tidak dibersihkan, maka setiap harinya debu yang menempel akan semakin banyak bahkan lama kelamaan akan sulit dikeluarkan dan tidak bisa bercermin lagi karena cerminnya buram. Suasana Ramadhan sangat menunjang untuk tidak melakukan kemaksiatan.
Keempat, meninggalkan hal-hal yang tidak berguna yang seringkali menjadi prioritas ketimbang persoalan lain yang bermanfaat. Sebut saja ngobrol yang tak jelas arahnya, ngerumpi, ngegosip yang kurang bemanfaat.
Guna menghindari hal tersebut, bulan Ramadhan memberikan sebuah penghargaan bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah. Artinya, ketika tidur, ia akan mampu menahan lisannya dari membicarakan hal-hal yang kurang bermanfaat. Sampai-sampai, bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.
Kelima, hiasilah diri dengan zikir. Senantiasa mengingat Allah dalam segala bentuk. Zikir tidak saja zikir lisan tapi yang lebih penting adalah zikir amali (perbuatan).
Kalau sekedar zikir lisan, semua orang bisa melaksanakannya bahkan non muslim pun bisa menyebutnya kalau hanya sekedar Alhamdulillah, subhanallah, masya Allah, astaghfirullah dan sebagainya. Tapi perbuatan menjauhi maksiat yang merupakan zikir amali inilah yang harus diperhatikan.
Ramadhan hanya sebulan lamanya. Jika tahun ini bisa menikmatinya, maka belum tentu tahun depan bisa meraihnya. Karenanya
bersyukurlah kepada Allah dengan terus menjaga kondisi keimanan. Yakinlah bahwa semua persoalan kehidupan yang dihadapi merupakan sarana untuk mempertebal dan meningkatkan keimanan kepada Allah swt agar diakhir kehidupan kita benar-benar ada manfaat dan memperoleh akhir yang baik (husnul khatimah). Amiin
* Staf Pengajar SMA Negeri 1 Manado, Ketua DPW Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Prov. Sulawesi Utara, Sekretaris Umum Yayasan Karya Islamiyah Manado