Polisi Tembak Polisi
Kalimat Puitis Ferdy Sambo dalam Pledoi
'Pembelaan yang Sia-Sia' menjadi judul yang dipilih Ferdy Sambo untuk nota pembelaannya.
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/ferdy-sambo-nota-pembelaan-pledoi-2512023.jpg)
Baca juga: Jaksa Tuntut Ferdy Sambo Penjara Seumur Hidup, Ibunda Brigadir J Minta Hakim Vonis Mati
Lebih lanjut, Sambo menjelaskan bahwa Putri Candrawathi pun meminta agar persoalan tersebut diselesaikan dengan baik-baik.
Sebab sebelumnya, istrinya juga telah menyampaikan langsung kepada Brigadir J agar resign dari pekerjaannya sebagai ajudan.
"Permintaan yang kemudian saya ikuti, lantas saya memintanya masuk ke dalam kamar sementara saya berdiam diri di ruang keluarga dengan hati dan pikiran yang kacau berantakan," tukasnya.
Di sisi lain, Sambo menambahkan penyesalan memanglah kerap datang belakangan.
"Demikianlah penyesalan kerap tiba belakangan, tertinggal oleh amarah dan murka yang
mendahului," tukasnya.
Skenario Dadakan
Setelah Brigadir J terkapar ditembak oleh Bharada Richard Eliezer, Sambo langsung membuat skenario tembak-menambak.
Skenario baku tembak antaranggota polisi itu diakui Sambo dibuat spontan berkat pengalamannya di bidang reserse.
"Sebagai seorang anggota polisi yang berpengalaman sebagai penyidik, maka sesaat setelah
peristiwa penembakan, dengan cepat saya dapat menggunakan pengetahuan dan pengalaman saya untuk mengatasi keadaan," katanya membacakan pleidoi.
Dia pun menjelaskan bahwa ide skenario itu muncul saat melihat senjata api (senpi) yang terselip di pinggang Bigadir J.
"Maka saya segera mecocokkan situasi yang terjadi dengan cerita yang laik," ujar Sambo.
Sebagai penyidik Polri berpengalaman, imajinasinya pun langsung membayangkan skenario tembak-menembak.