Gereja Toraja
Sejarah Gereja Toraja Pertama di Kota Makassar
Lokasinya Jl Gunung Bawakaraeng No 93, Kelurahan Pisang Utara, Kecamatan Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.
Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/05012023_Jemaat_Bawakaraeng.jpg)
Pekerjaan mereka cukup beragam, meliputi guru, anggota ABRI (Polisi/TNI), buruh, sopir, mandor, pegawai, dan lain sebagainya.
Pada bulan Juni 1929, surat edaran yang ditandatangani oleh P Ruruk asal Makale, K Kadang asal Rantepao, Benyamin asal Makale, K Kasewa asal Mamasa, dan AS Turu asal Ranteballa (dengan tanda tangan yang jelas terbaca: A Situru), ditujukan kepada para Zendeling, dan juga kepada para Parengnge’ (orang-orang yang dipilih langsung oleh masyarakat melalui mekanisme tertentu untuk menjalankan tugas seperti menyelesaikan konflik dalam masyarakat).
Mereka meminta bantuan dana yang akan digunakan untuk membeli atau membangun sebuah rumah yang akan difungsikan sebagai Passanggrahan dan Perhimpunan orang-orang Kristen Toraja.
Dinyatakan bahwa Passanggrahan tersebut akan dimanfaatkan dan atau difungsikan sebagai tempat transit atau tempat penampungan orang-orang Toraja (termasuk Toraja Mamasa) yang baru tiba di Kota Makassar.
Ketika itu, banyak orang-orang Toraja yang datang di Makassar tanpa ada kejelasan mengenai tempat tinggal.
Keinginan mereka yang dituangkan melalui surat edaran tersebut di atas, mendapat sambutan yang baik, yang antara lain dapat terlihat dari banyaknya pihak yang turut memberi sumbangannya.
Tercatat sebanyak 47 orang penyumbang antara lain adalah Zending Mamasa, Zending Rantepao-Makale, Puang (bangsawan) Sangngalla’, Puang (bangsawan) Makale, Parengnge’ Talion, Parengnge’ Nanggala, Perengnge’ Pangala’, Parengnge’ Kesu’, dan lain-lain.
Awal tahun 1929, Zending Mamasa dan Zending di Makale-Rantepao telah menyepakati bahwa pelayanan bagi kalangan orang-orang Toraja di Makassar dilayani secara bersama-sama.
Biaya yang bersangkut-paut dengan pelayanan itu, dua pertiganya ditanggung oleh Zending dari Makale-Rantepao dan sepertiganya oleh Zending Mamasa (menurut Ds A Bikker).
Selain itu, Gereja Protestan di Makassar dan Zendling yang melayani di Poso, juga memberikan sumbangan atau kontribusi secara teratur untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pelayanan bagi umat.
Atas usul Ds A Bikker, Konferensi Zendeling (GZB) di Makassar menempatkan seorang guru asal Maluku yang bernama A Siahainenia untuk melayani umat Kristen Toraja di Makassar.
Guru ini dimutasi dari Uluwai dan bertugas melayani sebagai guru Injil sampai dengan tahun 1935.
Sementara itu, pelayanan kependetaan dipercayakan kepada Ds A Bikker dari Mamasa. Kerja sama antara kedua Badan Zending ini berlangsung sampai tahun 1955, dalam bentuk Jemaat Gereja Toraja Makassar.
Pada tahun 1955, sebagian besar warga Gereja Toraja Makassar yang berasal dari Mamasa mendirikan jemaat sendiri yang berlokasi di jalan Gunung Salahutu dan bergabung pada Gereja Toraja Mamasa (GTM). (*/bersambung).