Gereja Toraja
Sejarah Gereja Toraja Pertama di Kota Makassar
Lokasinya Jl Gunung Bawakaraeng No 93, Kelurahan Pisang Utara, Kecamatan Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.
Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/05012023_Jemaat_Bawakaraeng.jpg)
Rumah panggung itu kemudian disebut dengan nama Banua Porimpunganna Toraya atau rumah perhimpunan/kerukunan rumpun Toraja (dialek Mamasa).
Dalam perjalanan selanjutnya, selain orang Toraja sendiri, semakin banyak orang Kristen diaspora yang datang di Makassar baik yang berasal dari Mamasa, Batak, Ambon, dan Manado.
Mereka semua bergereja di tempat itu, maka dari tahun 1927 sampai tahun 1947 gereja itu disebut Gereja Prostestan Makassar.
Pdt A J Anggui dalam Majalah Sulo tahun 2006 menuliskan, Kota Makassar ditetapkan sebagai salah satu wilayah pelayanan Konferensi para Zendeling dan berada di bawah resort pelayanan Makale-Sangalla’ sejak 1928.
Menurut KBBI, Zendeling adalah penyebar Agama Kristen.
Hal itu didasarkan pada adanya permintaan dari Perserikatan Toraja di Makassar yang sudah sering mengadakan kebaktian keluarga Toraja, walaupun belum teratur secara periodik.
Pada bulan Oktober tahun 1928, Ds DJ van Dijk sudah melayani Baptisan dan Perjamuan Kudus di kalangan orang-orang Toraja yang ada di Makassar.
Tercatat pelayanan baptisan pertama dilakukan pada tanggal 14 Oktober 1928, tanggal ini kemudian disepakati oleh Majelis Gereja Jemaat Bawakaraeng menjadi hari jadi Jemaat Bawakaraeng.
Pada tahun 1928 itu, pertemuan-pertemuan berkala sudah diadakan pada setiap hari Selasa malam di rumah seorang anggota pengurus yakni P Ruruk, seorang juru tulis kepolisian di Kota Makassar.
Pertemuan setiap hari Selasa malam ini sering dilayani oleh JF Pelupessy, seorang pendeta bantu dari Gereja Protestan di Makassar.
Ia juga mengajarkan katekisasi (pemahaman tentang iman Kristen), karena banyak anggota Kristen yang sudah menerima Baptisan kudus namun belum memperoleh pemahaman yang cukup tentang hal ini.
Perserikatan Toraja
Dalam daftar anggota Perserikatan Toraja yang dilampirkan pada surat yang dikirim oleh Pengurus ke Konferensi Zendeling di Kota Rantepao pada bulan Juni 1929, diindikasikan bahwa perserikatan tersebut memiliki anggota yang terdaftar sebanyak 241 orang (laki-laki dan perempuan, bukan kepala keluarga).
Tercatat pula daerah asal mereka yang meliputi Rantepao, Mamasa, Suppiran, Ranteballa, hingga Makale.
Sebagian besar dari mereka beragama Protestan, sedang selebihnya beragama Katolik dan Islam.