Di Palopo, Ada Spanduk Selamat Datang di Provinsi Luwu Raya

Massa aksi memarkir kendaraan berisi sound system tepat di badan jalan, sehingga arus lalu lintas, khususnya kendaraan roda empat, terhenti.

Editor: Imam Wahyudi
Tribun Toraja/ist
LUWU RAYA - Bentangan spanduk bertuliskan “Selamat Datang di Provinsi Luwu Raya” tampak mencolok di tengah Jalan Trans Sulawesi, Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (8/1/2026) sore. Spanduk itu dibentangkan massa Aliansi Pemekaran Luwu Raya (APLR) sebagai simbol tuntutan pembentukan daerah otonomi baru Provinsi Luwu Raya. 

TRIBUNTORAJA.COM - Bentangan spanduk bertuliskan “Selamat Datang di Provinsi Luwu Raya” tampak mencolok di tengah Jalan Trans Sulawesi, Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (8/1/2026) sore.

Spanduk itu dibentangkan massa Aliansi Pemekaran Luwu Raya (APLR) sebagai simbol tuntutan pembentukan daerah otonomi baru Provinsi Luwu Raya.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung di Jalan Poros Makassar-Palopo di Kelurahan Sampoddo, Kecamatan Wara Selatan, Palopo tersebut, diikuti ratusan mahasiswa.

Massa aksi memarkir kendaraan berisi sound system tepat di badan jalan, sehingga arus lalu lintas, khususnya kendaraan roda empat, terhenti.

Meski menutup akses utama Trans Sulawesi, peserta aksi masih memberi kelonggaran bagi kendaraan roda dua dan ambulans untuk melintas.

Namun, penutupan sebagian badan jalan tetap memicu kemacetan panjang hingga sekitar lima kilometer, baik ke arah selatan maupun utara.

Selain membentangkan spanduk, massa juga membakar ban bekas dan mengibarkan kain hitam sebagai bentuk protes.

Aksi ini menegaskan desakan agar pemerintah segera merealisasikan pembentukan Provinsi Luwu Raya.

Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Palopo, Ardi Dekal, dalam orasinya meminta para kepala daerah di wilayah Luwu Raya untuk turun langsung dan bersama-sama memperjuangkan pemekaran.

“Kami mendeklarasikan dengan tegas agar para kepala daerah hadir bersama kami untuk menuntut pemekaran Provinsi Luwu Raya,” ujar Ardi sambil mengepalkan tangan sebagai simbol perlawanan.

Ia menegaskan, pembentukan Provinsi Luwu Raya merupakan kebutuhan dan kepentingan masyarakat, bukan sekadar tuntutan kelompok tertentu.

Sementara itu, orator lainnya menyampaikan bahwa pembentukan Provinsi Luwu Raya merupakan janji negara yang belum terealisasi.

Menurutnya, masyarakat Luwu Raya selama ini masih tertinggal, padahal wilayah tersebut disebut sebagai salah satu penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar di Sulawesi Selatan.

“Provinsi Luwu Raya bukan janji politik, melainkan janji negara yang harus dilaksanakan,” tegasnya dari atas mobil pikap.

Massa juga memastikan aksi serupa akan terus dilakukan hingga tuntutan pembentukan Provinsi Luwu Raya benar-benar terwujud.

Hingga berita ini diturunkan, aksi unjuk rasa masih berlangsung.

Aparat kepolisian tampak berjaga di lokasi untuk mengamankan jalannya aksi sekaligus mengatur arus lalu lintas yang masih mengalami kemacetan.(andini)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved