Minggu, 3 Mei 2026

19 Kecamatan di Tana Toraja Rawan Bencana, Bittuang Paling Sering Dilanda Longsor

Dari jumlah tersebut, Kecamatan Bittuang menjadi wilayah yang paling sering mengalami kejadian tanah longsor.

Tayang:
zoom-inlihat foto 19 Kecamatan di Tana Toraja Rawan Bencana, Bittuang Paling Sering Dilanda Longsor
Tribun Toraja/Anastasya Saidong Ridwan
RAWAN BENCANA - Plt Kepala Dinas BPBD Tana Toraja, Cristian Batara Sakkung, saat ditemui di posko kesiapsiagaan di depan Plaza Kolam Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Rabu (7/01/2025). Ia menjelaskan ada 19 kecamatan di Tana Toraja rawan bencana terutama Kecamatan Bittuang 

TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Sebanyak 19 kecamatan di Kabupaten Tana Toraja masuk dalam kategori rawan bencana. 

Dari jumlah tersebut, Kecamatan Bittuang menjadi wilayah yang paling sering mengalami kejadian tanah longsor.

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tana Toraja, Cristian Batara Sakkung, saat ditemui di Posko BPBD Tana Toraja, depan Plaza Kolam Makale, Rabu (7/01/2025).

Cristian menjelaskan, kerawanan bencana di Tana Toraja dipengaruhi oleh kondisi topografi wilayah yang didominasi dataran tinggi dan pegunungan.

“Dari segi topografi, Tana Toraja lebih banyak dataran tinggi dibandingkan dataran rendah. Sekitar 60 persen wilayahnya merupakan daerah pegunungan, sehingga ada 19 kecamatan yang masuk kategori rawan bencana,” ujarnya.

Dari 19 kecamatan tersebut, terdapat sembilan kecamatan yang paling sering mengalami bencana tanah longsor. 

Antara lain, Kecamatan Bittuang, Simbuang, Mappak, Mengkendek, Rano, Malimbong Balepe, Makale Selatan, Kurra, dan Bonggakaradeng.

Menurut Cristian, jenis bencana yang paling dominan terjadi di Tana Toraja adalah tanah longsor. 

Selain itu, banjir juga kerap terjadi saat curah hujan tinggi, meski durasinya relatif singkat. Bencana lain yang juga sering dilaporkan yakni pohon tumbang.

“Untuk Tana Toraja, bencana yang paling besar dan paling sering terjadi adalah tanah longsor. Banjir biasanya ikut terjadi saat hujan deras, tapi tidak berlangsung lama. Pohon tumbang juga cukup sering,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pada dasarnya seluruh wilayah di Tana Toraja memiliki potensi bencana.

Namun, yang membedakan adalah tingkat kerusakan yang ditimbulkan.

“Semua daerah punya peluang terjadi bencana, tetapi ada perbedaan dari segi dampaknya. Ada yang masuk skala berat, sedang, dan rendah,” katanya.

Cristian Sakkung juga mengimbau masyarakat agar segera melaporkan ke posko siaga BPBD apabila menemukan tanda-tanda bencana seperti tanah longsor, pohon tumbang, maupun peningkatan debit air sungai.

“Masyarakat bisa langsung melapor ke posko atau menghubungi nomor darurat BPBD Tana Toraja di 0812-4424-6027,” tutupnya.

Dari pantauan Tribun Toraja, akses jalan menuju Kecamatan Bittuang masih menyisakan material longsor di sejumlah titik pada bahu jalan. 

Bencana longsor tersebut umumnya terjadi di ruas jalan poros serta jalan penghubung menuju Lembang (desa).(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved